Halaman ini digunakan untuk memuat tugas-tugas mata kuliah estetika Jawa yang belum terwadahi pada fasilitas posting terdahulu. Silahkan kirim tugas anda untuk melengkapi proses evaluasi mata kuliah estetika Jawa
Nama : Rizka Fadhila Nim : 2102407049 Rombel : 03 CATHETAN KLAWU PAMBUKA NING TAUN 1990
jenengku becak angkutan murah sing wis mratah merga diwawas ora manusiawi
jenengku becak sing sasuwene iki dadi garane wong-wong cilik ing satengahing jaman sing mengkrik-mengkrik
biyen aku diguwang ing segara lan aku ora kuwawa nyuwara saiki aku dioyak-oyak geneya atimu ora kewiyak?
wis tau kowe lara aku ngeterake menyang rumah sakit udane lagi bae neba nanging aku ora jerit-jerit apa maneh mendhem pangigit-igit
rikala kowe blanja barang-barangmu dakangkut rosa sing mangkene iki malah saben dina
jenengku becak angkutan murah sing wis kebacut mratah lan dadi napase wong sakhohah saiki aku kudu oncat saka DKI embuh urip embuh mati geneya ora koktangisi?
Menurut pandangan saya, geguritan ini memiliki nilai-nilai estetis pada beberapa aspek seperti penggunaan alur dramatik, rima atau persajakan, dan penggunaan gaya bahasa. Dipandang dari segi alur, geguritan ini memuat nilai-nilai estetis melalui penggunaan alur dramatik yang jelas. Penyair membuat alur dalam karyanya menjadi runtut sehingga mudah dipahami oleh penikmat sastra. Pelukisan alur pada geguritan ini diawali dengan pengenalan yaitu memberikan informasi awal tentang “aku” sebagai becak pada bait pertama. Pada bait kedua penyair mulai menegaskan informasi bahwa “aku” sebagai becak hanya kepunyaan rakyat kecil di tengah zaman modernisasi. Selanjutnya, pada bait ketiga penyair mengungkapkan pemunculan konflik yaitu becak yang harus dimusnahkan seperti dibuang ke laut. Penyair mempertanyakan sikap masyarakat yang biasa saja menanggapi kejadian tersebut padahal selama ini becak telah menjadi kendaraan familiar yang berperan penting dalam mobilitas masyarakat. Pada bait keempat dan kelima, penyair menggiring masalah untuk memunculkan klimaks bahwa bagaimana jadinya mobilitas masyarakat tanpa becak karena becak selama ini dijadikan alat transportasi penting yang digunakan masyarakat seperti mengantar orang ke rumah sakit dan mengangkut barang-barang belanja. Sebagai penutup dari geguritan, penyair menunjukkan titik intensitas puncak konflik yaitu larangan becak beroperasi di DKI. Selain itu, penyair memberikan penyelesaian konflik melalui penyerahan sikap masyarakat dalam menanggapi masalah tersebut. Jika digambarkan melalui urutan, maka alur dramatik dalam geguritan ini dapat dilihat sebagai berikut : Pengenalan :bait 1 Penguatan :bait 2 Pemunculan :bait 3 Penanjakan konflik :bait 4 dan 5 Klimaks dan penyelesaian :bait6 Selain alur dramatik, geguritan ini mengandung nilai-nilai estetis melalui pemakaian gaya bahasa seperti majas. Penyair mencoba mengekspresikan perasaannya kepada penikmat sastra melalui majas personifikasi pada bait keempat baris keempat yaitu nanging aku ora jerit-jerit. Pada kalimat tersebut, penyair seolah-olah menyifatkan becak seperti manusia yang memiliki sifat histeria atau menjerit-jerit. Selain itu, penyair juga mencoba memainkan rima atau persajakan melalui asonansi yaitu penggunaan unsur vokal yang sama dan aliterasi yaitu penggunaan unsur konsonan yang sama untuk memunculkan nilai-nilai estetis. Sebagai contoh pada bait ketiga, penyair memunculkan unsur vokal a serta unsur konsonan y dan k dalam setiap akhir baris pada satu bait. biyen aku diguwang ing segara lan aku ora kuwawa nyuwara saiki aku dioyak-oyak geneya atimu ora kewiyak?
Nama : Rizka Fadhila Nim : 2102407049 Rombel : 03 CATHETAN KLAWU PAMBUKA NING TAUN 1990
jenengku becak angkutan murah sing wis mratah merga diwawas ora manusiawi
jenengku becak sing sasuwene iki dadi garane wong-wong cilik ing satengahing jaman sing mengkrik-mengkrik
biyen aku diguwang ing segara lan aku ora kuwawa nyuwara saiki aku dioyak-oyak geneya atimu ora kewiyak?
wis tau kowe lara aku ngeterake menyang rumah sakit udane lagi bae neba nanging aku ora jerit-jerit apa maneh mendhem pangigit-igit
rikala kowe blanja barang-barangmu dakangkut rosa sing mangkene iki malah saben dina
jenengku becak angkutan murah sing wis kebacut mratah lan dadi napase wong sakhohah saiki aku kudu oncat saka DKI embuh urip embuh mati geneya ora koktangisi?
Menurut pandangan saya, geguritan ini memiliki nilai-nilai estetis pada beberapa aspek seperti penggunaan alur dramatik, rima atau persajakan, dan penggunaan gaya bahasa. Dipandang dari segi alur, geguritan ini memuat nilai-nilai estetis melalui penggunaan alur dramatik yang jelas. Penyair membuat alur dalam karyanya menjadi runtut sehingga mudah dipahami oleh penikmat sastra. Pelukisan alur pada geguritan ini diawali dengan pengenalan yaitu memberikan informasi awal tentang “aku” sebagai becak pada bait pertama. Pada bait kedua penyair mulai menegaskan informasi bahwa “aku” sebagai becak hanya kepunyaan rakyat kecil di tengah zaman modernisasi. Selanjutnya, pada bait ketiga penyair mengungkapkan pemunculan konflik yaitu becak yang harus dimusnahkan seperti dibuang ke laut. Penyair mempertanyakan sikap masyarakat yang biasa saja menanggapi kejadian tersebut padahal selama ini becak telah menjadi kendaraan familiar yang berperan penting dalam mobilitas masyarakat. Pada bait keempat dan kelima, penyair menggiring masalah untuk memunculkan klimaks bahwa bagaimana jadinya mobilitas masyarakat tanpa becak karena becak selama ini dijadikan alat transportasi penting yang digunakan masyarakat seperti mengantar orang ke rumah sakit dan mengangkut barang-barang belanja. Sebagai penutup dari geguritan, penyair menunjukkan titik intensitas puncak konflik yaitu larangan becak beroperasi di DKI. Selain itu, penyair memberikan penyelesaian konflik melalui penyerahan sikap masyarakat dalam menanggapi masalah tersebut. Jika digambarkan melalui urutan, maka alur dramatik dalam geguritan ini dapat dilihat sebagai berikut : Pengenalan :bait 1 Penguatan :bait 2 Pemunculan konflik :bait 3 Penanjakan :bait 4 dan 5 Klimaks dan penyelesaian :bait 6
Selain alur dramatik, geguritan ini mengandung nilai-nilai estetis melalui pemakaian gaya bahasa seperti majas. Penyair mencoba mengekspresikan perasaannya kepada penikmat sastra melalui majas personifikasi pada bait keempat baris keempat yaitu nanging aku ora jerit-jerit. Pada kalimat tersebut, penyair seolah-olah menyifatkan becak seperti manusia yang memiliki sifat histeria atau menjerit-jerit. Selain itu, penyair juga mencoba memainkan rima atau persajakan melalui asonansi yaitu penggunaan unsur vokal yang samadan aliterasi yaitu penggunaan unsure konsonan yang sama untuk memunculkan nilai-nilai estetis. Sebagai contoh pada bait ketiga, penyair memunculkan unsur vokal a serta unsur konsonan y dan k dalam setiap akhir baris pada satu bait. biyen aku diguwang ing segara lan aku ora kuwawa nyuwara saiki aku dioyak-oyak geneya atimu ora kewiyak?
Periode Klasik Pandangan Plato dan Aristoteles Mengenai Mimesis 1. Pandangan Plato Mengenai Mimesis Pandangan Plato mengenai mimesis sangat dipengaruhi oleh pandangannya mengenai konsep Idea-idea yang kemudian mempengaruhi bagaimana pandangannya mengenai seni. Plato menganggap Idea yang dimiliki manusia terhadap suatu hal merupakan sesuatu yang sempurna dan tidak dapat berubah. Idea merupakan dunia ideal yang terdapat pada manusia. Idea oleh manusia hanya dapat diketahui melalui rasio,tidak mungkin untuk dilihat atau disentuh dengan panca indra. Idea bagi Plato adalah hal yang tetap atau tidak dapat berubah, misalnya idea mengenai bentuk segitiga, ia hanya satu tetapi dapat ditransformasikan dalam bentuk segitiga yang terbuat dari kayu dengan jumlah lebih dari satu . Idea mengenai segitiga tersebut tidak dapat berubah, tetapi segitiga yang terbuat dari kayu bisa berubah (Bertnens1979:13). Berdasarkan pandangan Plato mengenai konsep Idea tersebut, Plato sangat memandang rendah seniman dan penyair dalam bukunya yang berjudul Republic bagian kesepuluh. Bahkan ia mengusir seniman dan sastrawan dari negerinya. Karena menganggap seniman dan sastrawan tidak berguna bagi Athena, mereka dianggap hanya akan meninggikan nafsu dan emosi saja. Pandangan tersebut muncul karena mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan hanya akan menghasilkan khayalan tentang kenyataan dan tetap jauh dari ‘kebenaran’. Seluruh barang yang dihasilkan manusia menurut Plato hanya merupakan copy dari Idea, sehingga barang tersebut tidak akan pernah sesempurna bentuk aslinya (dalam Idea-Idea mengenai barang tersebut). Sekalipun begitu bagi Plato seorang tukang lebih mulia dari pada seniman atau penyair. Seorang tukang yang membuat kursi, meja, lemari dan lain sebagainya mampu menghadirkan Idea ke dalam bentuk yang dapat disentuh panca indra. Sedangkan penyair dan seniman hanya menjiplak kenyataan yang dapat disentuh panca indra (seperti yang dihasilkan tukang), mereka oleh Plato hanya dianggap menjiplak dari jiplakan (Luxemberg:16). Menurut Plato mimesis hanya terikat pada ide pendekatan. Tidak pernah menghasilkan kopi sungguhan, mimesis hanya mampu menyarankan tataran yang lebih tinggi. Mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan tidak mungkin mengacu secara langsung terhadap dunia ideal. (Teew.1984:220). Hal itu disebabkan pandangan Plato bahwa seni dan sastra hanya mengacu kepada sesuatu yang ada secara faktual seperti yang telah disebutkan di muka. Bahkan seperti yang telah dijelaskan di muka, Plato mengatakan bila seni hanya menimbulkan nafsu karena cenderung menghimbau emosi, bukan rasio (Teew. 1984:221).
2. Pandangan Aristoteles Mengenai Mimesis Aristoteles adalah seorang pelopor penentangan pandangan Plato tentang mimesis, yang berarti juga menentang pandangan rendah Plato terhadap seni. Apabila Plato beranggapan bahwa seni hanya merendahkan manusia karena menghimbau nafsu dan emosi, Aristoteles justru menganggap seni sebagai sesuatu yang bisa meninggikan akal budi. Teew (1984: 221) mengatakan bila Aristoteles memandang seni sebai katharsis, penyucian terhadap jiwa. Karya seni oleh Aristoteles dianggap menimbulkan kekhawatiran dan rasa khas kasihan yang dapat membebaskan dari nafsu rendah penikmatnya. Aristoteles menganggap seniman dan sastrawan yang melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dari kenyataan indrawi yang diperolehnya. Dalam bukunya yang berjudul Poetica (via Luxemberg.1989:17), Aristoteles mengemukakakan bahwa sastra bukan copy (sebagaimana uraian Plato) melainkan suatu ungkapan mengenai “universalia” (konsep-konsep umum). Dari kenyataan yang menampakkan diri kacau balau seorang seniman atau penyair memelih beberapa unsur untuk kemudian diciptakan kembali menjadi ‘kodrat manusia yang abadi’, kebenaran yang universal. Itulah yang membuat Aristoteles dengan keras berpendapat bahwa seniman dan sastrawan jauh lebih tingi dari tukang kayu dan tukang-tukang lainnya. Pandangan positif Aristoteles terhadap seni dan mimesis dipengaruhi oleh pemikirannya terhadap ‘ada’ dan Idea-Idea. Aristoteles menganggap Idea-idea manusia bukan sebagai kenyataan. Jika Plato beranggapan bahwa hanya idea-lah yang tidak dapat berubah, Aristoteles justru mengatakan bahwa yang tidak dapat berubah (tetap) adalah benda-benda jasmani itu sendiri. Benda jasmani oleh Aristoteles diklasifikasikan ke dalam dua kategori, bentuk dan kategori. Bentuk adalah wujud suatu hal sedangkan materi adalah bahan untuk membuat bentuk tersebut, dengan kata lain bentuk dan meteri adalah suatu kesatuan (Bertens.1979: 13).
Seni tidak dapat diandalkan sebagai sumber pengetahuan Realitas. Pandangan ini sedikit berbeda dengan pemahaman Aristoteles yang juga meyakini bahwa seni adalah imitasi, tetapi karena proses imitasi itu melibatkan kemampuan akal dan roh manusia maka hasil karya seni memiliki keandalan yang sama sebagai sumber pengetahuan sebagaimana halnya kenyataan alam. Lebih jauh, Plotinus menafsirkan bahwa karya seni memiliki posisi yang lebih tinggi sebagai sumber pengetahuan dibanding alam karena dalam proses penciptaannya karya seni melibatkan unsur roh ketuhanan yang dimiliki manusia. Dalam tradisi seni Barat, ajaran seni sebagai Imitasi memiliki dampak yang luas dan panjang, seperti nampak pada dominasi gaya Realisme. Di luar pemahaman seni sebagai Imitasi, estetika filosofis memiliki puluhan jawaban tentang hakekat seni dan keindahan. Melvin Rader, dalam bukunya A Modern Book of Esthetics menunjuk berbagai pengertian seni : seni sebagai Bentuk, Ekspresi, Ilusi, Jarak Estetik, Main, Kesenangan, Simbol, Keindahan, Emosi, Fungsi, Penyadaran dan lain sebagainya. Dalam konteks penelitian, metodologi atau pendekatan dalam estetika filosofis yang cenderung spekulatif dianggap tidak memenuhi standar penelitian ilmiah. Dalam hal ini, kita dapat melangkah pada pembahasan estetika yang lain yaitu estetika yang bersifat keilmuan. Terutama pada akhir abad 19 dan awal abad 20 berbagai cabang ilmu kemanusiaan dan ilmu sosial mulai mengarahkan minat pada fenomena seni sehingga secara berturut-turut dapat ditunjuk pertumbuhan sub-disiplin seperti Sejarah Seni, Antropologi Seni, Psikologi Seni, Sosiologi Seni, Manajemen Seni. Cabang-cabang disiplin ini selain disebut sebagai Estetika Keilmuan, juga sering disebut dengan ilmu-ilmu seni. Estetika keilmuan atau ilmu-ilmu seni ini dalam pendekatannya bersifat empiris dan mengikuti tahap-tahap penelitian ilmiah seperti observasi, klasifikasi data, pengajuan hipotesis, eksperimen, analisis, dan penyimpulan teori atau dalil. Selain itu, pendekatan empiris pada karya seni melahirkan disiplin lain mencakup kritik seni, morfologi estetik, dan semiotik.
Nama : Dani Kartika Hapsari NIM: 2102407002 Rombel : 1 Tugas : 1 (pertama)
1. Keindahan Menurut pandangan yang ada dalam philebus, dnyatakan bahwa yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling “sederhana”, umpamanya nada sederhana, warna yang sederhana. Yang dimaksud sederhana adalah bentuk dan ukuran yang tidak dapat diberi batasan lebih lanjut berdasarkan sesuatu yamg lebih indah lagi. 2. Nilai estetik Kekayaan alam seperti lautan, gunung, danau, dan lain-lain adalah suatu karya seni. Seniman akan mendapatkan banyak inspirasi untuk karya seninya dari alam beserta isinya. Nilai estetik seni yang terbesar berasal dari alam. Jika kita bisa memaksimalkan seluruh panca indra kita untuk menikmati keindahan alam ini, maka kita akan menemukan berbagai macam karya seni yang tak ternilai harganya. Indra penglihatan, dapat kita gunakan untuk melihat pemandangan alam, hal tersebut bisa dijadikan inspirasi dalam melukis. Indra pendengaran, dapat kita gunakan untuk mendengar bunyi-bunyi yang diciptakan oleh alam seperti bunyi gemericik aliran air di sungai dan kicauan burung, semua itu dapat kita jadikan inspirasi dalam ilustrasi musik. Indra perasa, dapat kita gunakan untuk merasakan sejuk dan panasnya udara serta semilir angin yang sepoi-sepoi., hal tersebut dapat kita jadikan referensi dalam teater dan gerak tari. Indra peraba, dapat kita gunakan untuk meraba tumbuh-tumbuhan dan hewan, semua itu dapat digunakan untuk referensi pahatan patung. Alangkah berharganya alam ini jika kita sebagai seorang manusia mampu memperhatikan secara detail apa yang dimiliki oleh alam. 3. Pengalaman estetis Dewasa ini, banyak orang mengkaji dan membaca sastra, tetapi sesungguhnya mereka mengabaikan sastra. Dalam mengkaji sastra, mereka tidak seperti kalangan kritikus yang melihat sastra sebagai medium kesenian yang bernilai pada dirinya sendiri. Karena di mata mereka, sastra hanyalah suatu teks budaya atau dokumen sosial yang mengandung-di baliknya atau di luarnya-praktik-praktik penandaan (signifying practices) yang selalu merupakan hubungan kekuasaan yang timpang. Dan, sastra dikaji dengan kepentingan menyingkap bekerjanya kontestasi kuasa dalam setiap praktik penandaan itu. 4. Keindahan Alam keindahan alam adalah suatu kekuatan alam yang mampu memberikan rasa enak, nyaman, dan senang saat kita menikmatinya dengan cara apapun, entah itu dari melihat, mendengar atau apapun dengan semua panca indera yang kita miliki. 5. art adalah seni, sebuah kata dari Bahasa Inggris “art”. Seni adalah suatu karya ciptaan manusia yang memiliki keindahan sesuai dengan peradaban, pada masanya atau sesuai dengan karakter penciptanya. 6. Karya seni yaitu sesuatu yang dihasilkan oleh seseorang yang berasal dari rasa, cipta, dan karsa. 7. Seni Murni yaitu suatu bentuk seni yang hanya dapat dilihat keindahannya, misal lukisan, kaligrafi, dan patung. Dan seni murni ini hanya dapat dinikmati keindahannya saja. 8. Artifisial adalah sesuatu yang tidak alami atau buatan. 9. licentia poetica adalah kebebasan seorang penyair untuk memainkan kata atau bahasa sehingga dapat menimbulkan efek keindahan dalam karyanya. 10. unity adalah kesatuan harmony : keselarasan symmetry : sepada/sama rata balance : seimbang contrast : kebalikan
Nama : Dani Kartika Hapsari NIM: 2102407002 Rombel : 1 Tugas : 2 ( dua )
Perkembangan pemikiran estetika Periode Kritik
A.Relativisme
• Relativisme adalah suatu aliran atau paham yang mengajarkan bahwa kebenaran itu ada, akan tetapi kebenaran itu tidak mempunyai sifat mutlak.
• Istilah relativisme diangkat dari kata relatif, berasal dari kata latin reffere: membawa, mengacu, menghubungkan . dari situ timbullah kata relatio yang artinya relasi: hubungan, ikatan. Relativisme: adanya ikatan, adanya keterbatasa, nisbi.
B.SubjektiVisme
• Subjectivism: the restriction of knowledge to the knowing subject and its sensory. Affective and volitional states and to such external realities as may be inferred from the mind’s subjection states. (Subjectivism: aliran yang membatasi pengetahuan pada hal-hal (objek) yang dapat diketahui dan dirasa. Kecendrungan dan kedudukan kemauan pada realitas eksternal sebagai sesuatu yang bisa ditinjau dari pemikiran yang subjektif).
Sejarah Filsafat Barat : Sejarah filsafat barat bisa dibagi menurut pembagian berikut : filsafat klasik, abad pertengahan, modern, dan kontemporer.
Filsafat Modern (Zaman Modern 1500M-1800M) - Aliran Rasionalisme - Aliran Empirisme - Aliran Kritisisme
Pelopor aliaran ini adalah Immanuel Kant. Kant berpendapat bahwa pengetahuan tentang dunia berasal dari indera tetapi dalam akal ada factor-faktor yang menentukan bagaimana cara memandang dunia sekitar. Dia setuju dengan Hume bahwa kita tidak mengetahui secara pasti seperti apa dunia “itu sendiri” (“das Ding an sich”). Namun dunia itu hanya seperti tampak “bagiku” atu “bagi semua orang”. Dia memulai suatu “filsafat kritis”, yang tidak mau melewati batas-batas kemungkinan pemikiran manusiawi. Menurut Kant metafisika menjadi suatu ilmu, yaitu “ilmu tentang batas-batas pemikiran manusiawi Pemikiran filsafat pada masa sebelum Kant merupakan perubahan haluan filsafat umum dari objektivisme ke arah subjektivisme relatif oleh Descartes. bahwa empirisme sekalipun mulai dengan ajaran yang murni tentang pengalaman, tetapi melalui idealisme subjektif bermuara pada suatu skeptisisme yang radikal. Kant bermaksud mengadakan penelitian yang kritis terhadap rasio murni
Baumgarten (1714-1762). Ia telah memperkenalkan kepada dunia nama “Aesthetika” (dipakai sebagai judul bukunya yang terbit tahun 1750) untuk bidang penyelidikan khusus yang menyengkut teori tentang keindahan. Term ini akhirnya dapat diterima sebagai nama dari setiap filsafat yang membahas tentang keindahan secara keseluruhan. Baumgarten mendapat julukan “Bapak Ilmu Estetika” karena jasanya ini (Anwar, 1980:18).
Kant memiliki banyak pengikut dan hampir semua sepakat bahwa buku kritik ketiganya merupakan karya terbaik dari ketiga karya kritiknya. Pengikut-pengikut Kant yang menonjol adalah Schiller, Schelling, Hegel, dan Arthur Schopenhuer.
Friedrick Heger Konsep filsafat hukum juga berkaitan dengan person. menurutnya, dalam uraian awalnya pada konsep roh subjektif menerangkan momen terakhir dari roh subjektif adalah kehendak bebas agar berada dalam kebebasan objetifnya, kehendak mesti mengambil bentuk sukesifnya.
Dia memberikan makna tersendiri bagi moralitas, yang dengan itu berarti mengisi kekurangan yang ada pada Aristoteles; soal transendensi, dan kekurangan yang ada pada Kant, soal realitas norma yang ada dalam masyarakat.
ujud kebudayaan Menurut J.J Honigmann dalam bukunya The world of Man (1959:halaman 11-12) membedakan adanya tiga wujud kebudayaan yaitu: ideas, activities, artifacts.
Koentjaraningrat berpendirian bahwa kebudayaan itu memiliki tiga wujud, yaitu: 1.Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya 2.Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat 3.Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia
Melihat hal-hal di atas, Posmodern menjadi bagian dari kebudayaan akibat dari pemikiran/ide beberapa ilmuwan/antropolog/sosiolog yang kemudian terwujud dalam pola tindakan sebagai pemberontakan dari modernisme yang kemudian diterima oleh masyarakat sekarang ini. Kesudahannya terlihat dari benda-benda yang dihasilkan manusia, baik yang berwujud nyata (desain, karya seni, bangunan, dsb) maupun yang tidak berwujud nyata (seperti internet, program komputer, dsb).
Definisi Posmodernisme
Sebelum menjabarkan definisi tentang posmodernisme, sebelumnya perlu diketahui tentnga definisi modernisme terlebih dahulu. David Michel Levin, dalam bukunya The opening of Vision: Nihilsm and the Postmodern Situation, bahwa apa yang disebut dengan periode modern,” ...dapat dijelaskan berdasarkan kenyataaan bahwa manusia menjadi pusat dan ukuran dari semua ‘ada’ (beings)” (Levin 1988:3). Bagi Hebernas, apa yang disebut oleh Hegel sebagi ‘zaman baru’, pada hakekatnya dapat dijabarkan melalui konsep-konsep yang bersifat dinamis, seperti revolusi, kemajuan, pertumbuhan, perkembangan, krisis, dan zeitgeist (Habermas 1990:60) Menurut Heidegger, mengontrol citra-citraan sebagai suatu proses merupakan satu proses ideologis untuk mengontrol sesuatu yang bersifat transparan—menjaga pengertian, bahwa apa yang dilihat melalui citraan adalah nyata, walau sebenarnya semu. Inilah yang kemudian disebut dengan hyperrealis. Selamat datang di dunia Hyperealis yang merupakan bagian dari posmodern (kelanjutan dari modern) Bentuk-bentuk Posmodernisme
Idiom estetik yang merupakan bagian dari posmodernisme adalah: 1.Pastiche Pastiche adalah imitasi murni, tanpa pretensi apa-apa. Teks prastiche mengimitasi teks-teks masa lalu, dalam rangka mengangkat dan mengapresiasikannya.. 2.Parodi Parodi adalah: 1)Satu bentuk dialog (menurut pengertian Bakhtin), yaitu satu teks bertemu dan berdialog dengan teks lainnya 2)tujuan dari parodi adalah untuk mengekspresikan perasaan puas, tidak senang, tidak nyaman berkenaan dengan intensitas gaya atau karya masa lalu yang dirujuk. 3.Kitsch Kitsch adalah sampah artistik/ selera rendahan/ seni rendahan. Contoh: patung miniatur beethoven dari bahan plastik, patung ikonik botol Coca cola, produk-produk yang dilapisi imitasi: emas, perak, dsb. 4.Camp Satu model estetisme, yaitu satu cara melihat dunia sebagai satu fenomena estetik, dalam pengertian ‘keartifisialan’. Contoh: penggunaan elemen-elemen art noveau dan art deco dalam bangunan-bangunan sekarang. 5.Skizofrenia “...putusnya rantai pertanda yaitu rangkaian sintagmatis penanda yang bertautan dan membentuk satu ungkapan atau makna”
Croce menyebutkan bahwa ekspresi tidak dapat dipisahkan dari intuisi. Kita dapat mengidentifikasi seni melalui fakta estetik contohnya karya seni yang memiliki ciri intuitif. Namun para filsuf menentang anggapan bahwa semua intuisi adalah seni. Menurut mereka, seni merupakan sebuah intuisi yang sangat khusus. Jadi intuisi artistik berbeda dengan intuisi pada umumnya karena memiliki faktor X yang lebih. Tidak ada perbedaan spesifik sehingga tidak seorangpun mampu menunjukkan apa faktor X itu. Ada yang merumuskan seni adalah intuisinya intuisi namun anggapan ini tidak mencukupi.
Intuisi artistik sama dengan intuisi biasa. Namun fungsi artistik jangkauannya lebih luas sehingga perbedaannya tidak bersifat intensif tetapi lebih pada ekstensif. Menurut Croce, dimana batas dari ungkapan intuisi yang disebut seni sifatnya empiris dan tidak dapat didefinisikan. Bagi Croce hanya ada satu estetika, sains tentang pengetahuan intuitif atau pengetahuan ekspresif yang merupakan fakta artistik. Kejeniusan artistik atau intuitif seperti bentuk aktivitas manusia lainnya adalah selalu sadar. Jika tidak ia akan menjadi suatu mekanisme buta. Croce menentang pandangan bahwa ketidaksadaran (unconsciousness) sebagai kualitas utama dari kejeniusan artistik. Kelebihan para jenius artistic terletak pada kesadaran reflektif.
Fakta estetik bukan hanya terdiri atas isi dan juga bukan merupakan titik temu antara bentuk dan isi, yaitu impresi plus ekpresi. Dalam fakta estetik, aktivitas ekspresif tidak hanya menambah impresi namun lebih pada elaborasi dan pemberian bentuk pada impresi. Peniruan alam bukan berarti seni membuat reproduksi mekanis (membuat duplikat objek alami yang sempurna). Ilusi dan halusinasi tidak ada kaitannya dengan wilayah intuisi artistik. Jika seniman melukis pemandangan maka kita melihat suatu aktivitas spiritual dan intuisi artistik.
Intuisi merupakan pengetahuan dan seni adalah pengetahuan. Pernyataan bahwa seni tidak menunjukkan kebenaran dan bukan termasuk dunia teoritis adalah klaim yang muncul dari ketidakmampuan untuk mengerti ciri teoritis dari intuisi biasa. Menurut Croce, teori bahwa ada kemampuan indera estestis khusus juga timbul dari kegagalan untuk mendudukkan dengan benar, perbedaan karakter antara ekspresi dan impresi (bentuk dan materi). Ungkapan estetis adalah sebuah sintesis dan tidak dapat dibedakan mana yang langsung dan mana yang tidak langsung masuk ke dalam indera estetik.
Setiap ekspresi merupakan ungkapan yang utuh, melebur, menyatukan impresi – impresi menjadi kesatuan organic. Fakta ini yang selalu dicari orang ketika mereka mengatakan bajwa karya seni memiliki kesatuan dalam keragaman meskipun hal ini bertentangan dengan fakta bahwa kita membagi karya seni menjadi puisi yang terbagi menjadi kalimat, kata, dan lainnya. Pembagian merusak karya seni, karena karya seni harus mendeduksi bagian dan membangun bagian menjadi ungkapan utuh. Dengan menggabungkan impresi, manusia dapat membebaskan diri dari impresi tersebut. Fungsi seni sebagai yang membebaskan merupakan sisi lain dari karakternya sebagai aktivitas. Aktivitas berfungsi sebagai pembebas karena aktivitas menghasilkan kepasifan.
*Teori Croce sangat idealis bahwa seni adalah suatu intuisi yang utuh, pembebas dan memurnikan. Seni tidak berbeda dengan pengetahuan dan berisikan kebenaran. Hal ini membuat kedudukan seniman dengan ilmu sains menjadi setara sehingga seni tidak dapat diremehkan. Selama ini masyarakat amat merendahkan kedudukan seni. Dengan teori Croce kita dapat membalikkan sains yang kaku dan terlalu berkuasa.
Pemilihan karya sastra kumpulan cerkak Ajur!! Karya Akhir Luso No sebagai objek kajian karena beberapa factor, antara lain : 1.Sebagian besar cerkak memiliki kesamaan latar tempat 2.Bahasa yang digunakan pengarang lugas dan cukup mudah dipahami Di sini penulis akan mengkaji menggunakan pendekatan pragmatik. Pendekatan ini memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Jadi penulis sebagai pembaca karya sastra bisa memberikan tanggapan bahkan kritik terhadap karya sastra tersebut. Pendekatan ini juga bertujuan memberikan manfaat bagi pembaca. Beberapa pesan moral yang terkandung dalam cerkak-cerkak Akhir Luso No ini secara tidak langsung telah memberikan suatu manfaat tersendiri bagi pembaca. Dari itu pembaca dapat menemukan beberapa ajaran kehidupan. Nama : Ita Mayasaroh NIM : 2102407171 Rombel : 6
Identitas Novel: Judul: Jaring Kalamangga Pengarang: Suparto Brata
Menurut pendapat saya, teori yang pantas untuk menganalisis novel "Jaring Kalamamgga" tersebut adalah teori Semiotik atau sistem tanda. Alasan mengapa dipilihnya teori tersebut karena dalam novel ini terdapat banyak kata-kata yang belum dapat saya pahami makna atau artinya. Jadi dengan menggunakan teori Semiotik diharapkan arti atau makna dari kata-kata tersebut dapat dipahami.
Saya memilih novel "Jaring Kalamangga", karena cerita dari novel ini sangat menarik dan mengandung nilai keindahan. Letak keindahan dari novel ini yaitu terletak pada isi ceritanya yaitu mengenai cerita detektif yang menghadapi suatu masalah atau teka-teki, dan akhirnya masalah atau teka-teki tersebut dapat dipecahkan dengan penyelidikan yang sangat hebat dan menarik.
Novel dengan judul "Emprit Abuntut Bedhug" karya dari" Suparto Brata" dapat dianalisi dengan menggunakan teori semiotk yaitu hubungan antara tanda dan penanda. Seperti misalnya dalam menyelidiki masalah ada orang penyelidik sebagai tanda dan penandanya adalah deteketif Handaka. Dengan menggunakan teori Semiotik dapat dikembangkan dengan pendekatan ekspresif. Karena yang menarik dalam novel ini adalah adalah pengarang menonjolkan dalam penokohan. Pengarang mampu menampilkan cerita itu tampak hidup dengan cara menonjolkan dalam penokohan. cerita ini merupakan kritik sosial dalam kehidupan masyarakat. Bahwa meskipun kejahatan itu disembunyikan seperti apapun pasti dapat terungkap juga. Pengarang dapat menampilkan penokohan sebagai jalan cerita bagi saya inilah yang menarik. Pengarang memberikan tanda penokohan dengan digunakan untuk penandanya jalan cerita. Jadi cerita itu tidak berdiri sendiri. Penokohan itu mengupas dengan detail dan rinci sehingga pembaca dapatmemahami dengan mudah.
Nama : RO'UFATUL KHABIB NIM : 2102407151 Rombel : 6 Periode Positivisme
Comte adalah tokoh aliran positivisme yang paling terkenal. Kamu positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis. Pendiri filsafat positivis yang sesungguhnya adalah Henry de Saint Simon yang menjadi guru sekaligus teman diskusi Comte. Menurut Simon untuk memahami sejarah orang harus mencari hubungan sebab akibat, hukum-hukum yang menguasai proses perubahan. Mengikuti pandangan 3 tahap dari Turgot, Simon juga merumuskan 3 tahap perkembangan masyarakat yaitu tahap Teologis, (periode feodalisme), tahap metafisis (periode absolutisme dan tahap positif yang mendasari masyarakat industri. Comte menuangkan gagasan positivisnya dalam bukunya the Course of Positivie Philosoph, yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis yang semuanya itu tewujud dalam tahap akhir perkembangan. Perkembangan ini diletakkan dalam hubungan statika dan dinamika, dimana statika yang dimaksud adalah kaitan organis antara gejala-gejala ( diinspirasi dari de Bonald), sedangkan dinamika adalah urutan gejala-gejala (diinspirasi dari filsafat sehjarah Condorcet). Bagi Comte untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positif ini mempunyai 4 ciri, yaitu : 1. Metode ini diarahkan pada fakta-fakta 2. Metode ini diarahkan pada perbaikan terus meneurs dari syarat-syarat hidup 3. Metode ini berusaha ke arah kepastian 4. Metode ini berusaha ke arah kecermatan. Metode positif juga mempunyai sarana-sarana bantu yaitu pengamatan, perbandingan, eksperimen dan metode historis. Tiga yang pertama itu biasa dilakukan dalam ilmu-ilmu alam, tetapi metode historis khusus berlaku bagi masyarakat yaitu untuk mengungkapkan hukum-hukum yang menguasai perkambangan gagasan-gagasan. Hukum Tiga Tahap Auguste Comte Comte termasuk pemikir yang digolongkan dalam Positivisme yang memegang teguh bahwa strategi pembaharuan termasuk dalam masyarakat itu dipercaya dapat dilakukan berdasarkan hukum alam. Masyarakat positivus percaya bahwa hukum-hukum alam yang mengendalikan manusia dan gejala sosial da[at digunakan sebagai dasar untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan sosial dan politik untuk menyelaraskan institusi-institusi masyarakat dengan hukum-hukum itu. Untuk itu Comte mengajukan 3 metode penelitian empiris yang biasa juga digunakan oleh bidang-bidang fisika dan biologi, yaitu pengamatan, dimana dalam metode ini [eneliti mengadakan suatu pengamatan fakta dan mencatatnya dan tentunya tidak semua fakta dicatat, hanya yang dianggap penting saja. Metode kedua yaitu Eksperimen, metode ini bisa dilakukans ecara terlibat atau pun tidak dan metode ini memang sulit untuk dilakukan. Metode ketiga yaitu Perbandingan, tentunya metode ini memperbandingkan satu keadaan dengan keadaan yang lainnya.
NAMA : RO’UFTUL KHABIB NIM : 2102407151 ROMBEL : 6 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di dunia wanita, wanita adalah sosok yang sangat dihargai dan dihormati keberadaannya. Wanita diibaratkan sebagai perhiasan dunia, bahkan dalam agama islam terdapat istilah bahwa surga itu ditelapak kaki ibu. Kehidupan wanita sarat dengan pesan pendidikan, khususnya kodratnya sebagai seorang ibu. Wanita Indonesia sejak dulu telah mengenal pendidikan dan berperan aktif di dalamnya. Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu memberikan contoh dalam proses pemerolehan bahasa. Adanya perbedaan status antara pria dengan wanita pada zaman dahulu serta adat yang keras terhadap keberadaan wanita, menjadikan wanita tersingkir dari pendidikan yang bersifat formal. Seorang ibu adalah wanita pertama yang mengajarkan kosa kata. Kualitas keterampilan berbahasa seseorang jelas bergantung pada kuantitas dan kualitas kosa kata yang dimilikinya. Bagi wanita dari kalangan bangsawan dan keluarga istana lebih leluasa dalam mendapatkan pendidikanserta mereka dibekali keterampilan, wanita dari kalangan biasa sangat langka berkesempatan untuk mengenyam pandidikan (formil) kalaupun ada kesempatan hanya sebatas dasar saja. Akibatnya muncullah buku-buku yang di dalamnya mengangkat kaum wanita yang berkaitan dengan pesan pendidikan. Salah satu karya sastra yang mengangkat tentang pesan pendidikan wanita adalah novel Dalem Sawo Kembar. Karya satra jawa yang berupa novel ini masih berstruktur bahasa jawa dengan tulisan dengan ejaan lam, bahkan bukunya untuk ukuran semaju ini sudah langka atau sudah tidak ada di pasaran. Novel cetakan tahun 1965 ini ditulis oleh sastrawan wanita bernama Rani Wida dari Yogyakarta. Dalen Sawo Kembar banyak memuat dan mengaji piwulang etika tentang pendidikan bagi wanita, dengan ini melahirkan pesan bagi kaum wanita. Bagaimana seorang wanita harus bertindak atau bertingkah laku, novel Dalem Sawo Kembar juga memberikan ajaran pendidikan khususnya bagi kaun wanita dalam hidup di lingkungan keluarga. Secara spesifik novel Dalem Sawo Kembar belum pernah dikaji terutama mengenai tokoh wanitanya. Dalam novel ini penulis menampilkan eran wanita sebagai peran yang dominan dalam kehidupan. Tokoh-tokoh diperankan untuk dicari pesan pendidikan apa yang ada dalam karakternya. Penokohan erat hubungannya dengan perwatakan. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka muncul permasalahan sebagai berikut: 1.Bagaimana konsep-konsep pesan pendidikan wanita yang terdapat dalam novel Dalem Sawo Kembar? 2.Bagaimana relevansi pendidikan dalam novel Dalem Sawo Kembar dengan pendidikan zaman sekarang? C.Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah: 1.Mendeskripsikan konsep-konsep pesan pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. 2.Mendeskripsikan relevansi pesan pendidikan wanita dalam novel Dalem Sawo Kembar dengan pendidikan zaman sekarang. D.Manfaat Penelitian Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan menfaat antara lain: 1.Memberikan gmbaran tentang wanita melalui pesan pendidikan yang terkandung dalam novel Dalem Sawo Kembar, 2.Memberiakan teladan kepada para pembaca 3.Memberikan manfaat pengembangan sumber daya manusia khususnya wanita dalam meningkatkan apresiasi dan untuk pembaca satra jawa pada umumnya. 4.Sebagai sarana pengetahuan, dapat mencegah tindakan para pria yang semena-mena melakukan tindak kriminal terhadap wanita.
Nama: Atika Vidyaninggar NIM : 2102407149 Rombel : 06
sering kali dalam suatu perjalanan rumah tangga diwarnai dengan adanya masalah-masalah sepele yang mengakibatkan dampak atau efek yang buruk pada kelanjutannya. Hal ni juga dituangkan dalam novel yang berjudul Jaring Kalamangga yang dikarang oleh Soeparta Brata. Saya menganalisis novel ini dengan menggunakan teori atau pendekatan ekspresif. latar belakang pemilihan pendekatan ekspresif tersebut karene dengan menggunakan pendekatana ekspresif maka karya sastra tersebut dapat diketahui sebab awalnya mengapa pengarang membuat novel yang berjudul Jaring Kalamangga tersebut. pendekatan ekspresif merupakan suatu kajian prosa yang berangkat sari suatu anggapan bahwa karya sastra merupakan ungkapan jiwa pengarang yang bisa berupa ideologi, gagasan, ajakan, kritik sosial yang berlaku di masyarakat / bisa berupa apa saja yang diamati pengarang yang dapat dituangkan dalam bemtuk karyanya. pada novel in banyak sekali terdapat bentuk kritik sosial yang disampaikan pengarang terhadap bentuk pe,erintahan yang dipimpin olrehPresiden Soeharto dan asa G 30 S / PKI yang dulu pernah ada di Indonesia. dalam novel ini pengarang menuangkan gagasan kritikannya secara implisit. Kemungkinan pengarang menuangkan gagasannya dalam bentuk novel supaya amanat yang terkandung dalam novel tersebut benar-benar dapat tersampaikan pada pembaca. Segi estetis novel Jaring Kalamangga ini terletak pada kajian ceritanya yang didasarkan pada kebidupan nyata yang pernah dialami rakyat Indonesia pada jaman tersebut.
Tugas 2 Nama : Lyna Faizatul Banat NIM : 210 2407054 Rombel : 03
Sejarah perkembangan estetika Sejarah filsafat barat : sejarah filsafat barat bisa dibagi menurut pembagian berikut : filsafat klasik, abad pertengahan, modern, dan kontemporer.
Filsafat Modern (zaman Modern 1500M-1800M) -Aliran Rasionalisme -Aliran Empierisme -Aliran kritisisme
1. Pandangan aristoteles mengenai Mimesis Aristoteles adalah seorang pelorpor penentangan pandangan plato tentang Mimesis yang berrati juga menentang pandangan rendah plato terhadap seni. apabila Plato beranggapan bahwa seni hanya merendahkan manusia karena menghimbau nafsu dan emosi. Aristoteles justru menganggap seni sebagai sesuatu tang bisa meninggikan akal budi.
2. Pandangan Plato Mengenai Mimesis pandangan Plato mengenai Mimesis sangat dipengaruhi oleh pandangan konsep idea-idea yang kemudian mempengaruhi bagaimana pandanagnnya mengenai seni. Plato menganggap Idea yang dimiliki manusia terhadap suatu hal merupakan sesuatu yang sempurna dan tidak dapat berubah. Idea merupakan Ideal yang terdapat pada manusia.
3. Relativisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa kebenaran itu ada akan tetapi kebenaran itu tidak mmepunyai sifat mutlak
4. Subjektivisme aliran yang membatasi pengetahuan pada hal-hal (onjek) yang dapat diketahui dan dirasa. kecenderungan dan kedudukan kemampuan pada realitas eksternal sebagai sesuatu yang bisa ditinjau dari pemikiran yang subjektif.
Nama : Lyna Faizatul Banat NIM : 2102407054 Rombel : 03
Zahroh Mufidah
Kleyengan Layang Wingit
layang peteng sing dak temu ndhodhog napas ambisisku pitakon sujana jogedan sora kaya ngene ta dalane ngindang mala? methik prakara? ngejur balung sungsum adiluhung?!
sakala ganda bacin nyandhet laku swara santak dadi serak drijiku durung pomah tulisan kamonceran sapa sing kena digugu, apa sing bisa diluru golek cagak pisambat durung, durung bisa anggrahita awit wangsulane isih sepa'
Surabaya, Agustus 2002 Pnjebar Semangat, 4 Desember 2002 Halaman 50
Analisis : Puisi yang berjudul Kleyenge Wayang Wingit, yang ditulis oleh Zahroh Mufidah secara estetis terlihat cukup bernilai estetis karena masih menggunakan bahasa kias yang diungkapkan tidak secara lugas sehingga lebih membuat pembaca menilai geguritan dengan banyak versi yang kreatif. banyak kata-kata terahir dalam baris yang mempunyai vokal yang sama sehingga akan menimbulkan keindahan ketika dibaca. pengarang menggunakan kata-kata yang divisualisasikan dalam bentuk benda-benda yang biasa disimbolkan dengan keindahan seperti kata rembulan.
Nama : Desi Dwi Purnamasari NIM : 2102407117 Rombel : 4
Sejarah Perkembangan Estetika
Semiotik Sastra
Semiotik (kadang-kadang juga dipakai istilah semiologi) ialah ilmu yang secara sistematik mempelajari tanda-tanda dan lambang-lambang (sèmeion, bahasa Yunani= tanda), sistem-sistem lambang dan proses-proses perlambangan. Dengan demikian ilmu bahasa pun dapat dinamakan ilmu semiotik. Ada juga bahasa-bahasa yang diciptakan manusia sendiri, jadi yang tidak berkembang dengan sendirinya, dan yang dapat dinamakan sistem lambang, seperti misalnya tanda-tanda lalu lintas atau sistem unsur dan kaidah yang berlaku dalam ilmu logika. Terdapat juga sistem-sistem lambang sekunder yang berfungsi di dalam rangka sebuah sistem primer, seperti misalnya di dalam bahasa-bahasa alamiah. Di dalam rangka sebuah sistem lambang kita mengartikan gejala-gejala tertentu (gerak-gerik, kiasan-kiasan, kalimat, dan seterusnya) berdasarkan sebuah kaidah atau sejumlah kaidah. Kaidah-kaidah itu merupakan sebuah kode, yaitu alasan atau dasar mengapa kita mengartikan suatu gejala begini atau begitu, sehingga gejala itu menjadi suatu tanda. Menurut pandangan ini sastra merupakan sebuah sistem sekunder; semiotik sastra mempelajari bahasa alami yang dipakai dalam sastra, misalnya bahsa Indonesia atau Inggris, tetapi juga sistem-sitem tanda lainnya, untuk menemukan kode-kodenya. Berikut semiotik sastra yang diilhami Peirce dan Lotman. 1. Semiotok Sastra ala Peirce Yang merancang secara sitematik sebuah teori tentang tanda ialah filsuf Amerika Charles Peirce (1839-1914). Kita saling mengadakan komunikasi lewat tanda-tanda. Tanda-tanda bahasa hanya merupakan salah satu kelompok tanda yang kita pergunakan. Kata-kata, tetapi juga kalimat-kalimat dan teks-teks termasuk tanda-tanda bahasa. Menurut Peirce ada tiga faktor yang menentukan adanya sebuah tanda, yaitu tanda itu sediri, hal yang ditandai dan sebuah tanda baru yang terjadi dalam batin si penerima. Tanda itu merupakan suatu gejala yang dapat diserap atau pun suatu gejala yang lewat penafsiran dapat diserap. Antara tanda pertama dan apa yang ditandai (yang diacu) terdapat suatu hubungan representasi (to represent=menghadirkan, mewakili).
2. Semiotok ala Lotman Menurut tokoh semiotik sastra Rusia, Joeri Lotman, maka perbedaan antara bahasa sehari-hari dan bahasa sastra disebabkan karena fungsi ikonisitas dalam sastra. Tahap-tahap formal di dalam teks menggambarkan isinya. Untuk sebagian semiotik Soviet berakar dalam formalisme, tetapi ada pengaruh juga dari mahzab Praha dan bahkan dari strukturalisme Prancis. Pandangan Lotman yaitu bahwa seni adalah salah satu cara manusia menjalin hubungan dengan dunia sekitarnya. Seni merupakan suatu sistem tanda-tanda yang menerima informasi, menyimpannya lalu mengalihkannya. Sebuah karya seni merupakan sebuah “teks”. Ini berlaku bagi setiap bentuk kesenian. Setiap cabang kesenian dapat kita pandang sebagai suatu bahasa. Karya-karya sastra merupakan “teks-teks” dalam bahasa alami. Sekelompok teks, seperti misalnya komedia Rusia pada abad ke-18 atau puisi Inggris yang metafisik dari abad ke-17, dapat dinamakan sebuah teks.
Sumber: Luxemburg, Jan van, dkk.1992.Pengantar Ilmu Sastra (Terjemahan Dick Hartoko).Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama
Nama : Desi Dwi Purnamasari NIM : 2102407117 Rombel : 5
Sejarah Perkembangan Estetika
Semiotik Sastra
Semiotik (kadang-kadang juga dipakai istilah semiologi) ialah ilmu yang secara sistematik mempelajari tanda-tanda dan lambang-lambang (sèmeion, bahasa Yunani= tanda), sistem-sistem lambang dan proses-proses perlambangan. Dengan demikian ilmu bahasa pun dapat dinamakan ilmu semiotik. Ada juga bahasa-bahasa yang diciptakan manusia sendiri, jadi yang tidak berkembang dengan sendirinya, dan yang dapat dinamakan sistem lambang, seperti misalnya tanda-tanda lalu lintas atau sistem unsur dan kaidah yang berlaku dalam ilmu logika. Terdapat juga sistem-sistem lambang sekunder yang berfungsi di dalam rangka sebuah sistem primer, seperti misalnya di dalam bahasa-bahasa alamiah. Di dalam rangka sebuah sistem lambang kita mengartikan gejala-gejala tertentu (gerak-gerik, kiasan-kiasan, kalimat, dan seterusnya) berdasarkan sebuah kaidah atau sejumlah kaidah. Kaidah-kaidah itu merupakan sebuah kode, yaitu alasan atau dasar mengapa kita mengartikan suatu gejala begini atau begitu, sehingga gejala itu menjadi suatu tanda. Menurut pandangan ini sastra merupakan sebuah sistem sekunder; semiotik sastra mempelajari bahasa alami yang dipakai dalam sastra, misalnya bahsa Indonesia atau Inggris, tetapi juga sistem-sitem tanda lainnya, untuk menemukan kode-kodenya. Berikut semiotik sastra yang diilhami Peirce dan Lotman. 1. Semiotok Sastra ala Peirce Yang merancang secara sitematik sebuah teori tentang tanda ialah filsuf Amerika Charles Peirce (1839-1914). Kita saling mengadakan komunikasi lewat tanda-tanda. Tanda-tanda bahasa hanya merupakan salah satu kelompok tanda yang kita pergunakan. Kata-kata, tetapi juga kalimat-kalimat dan teks-teks termasuk tanda-tanda bahasa. Menurut Peirce ada tiga faktor yang menentukan adanya sebuah tanda, yaitu tanda itu sediri, hal yang ditandai dan sebuah tanda baru yang terjadi dalam batin si penerima. Tanda itu merupakan suatu gejala yang dapat diserap atau pun suatu gejala yang lewat penafsiran dapat diserap. Antara tanda pertama dan apa yang ditandai (yang diacu) terdapat suatu hubungan representasi (to represent=menghadirkan, mewakili).
2. Semiotok ala Lotman Menurut tokoh semiotik sastra Rusia, Joeri Lotman, maka perbedaan antara bahasa sehari-hari dan bahasa sastra disebabkan karena fungsi ikonisitas dalam sastra. Tahap-tahap formal di dalam teks menggambarkan isinya. Untuk sebagian semiotik Soviet berakar dalam formalisme, tetapi ada pengaruh juga dari mahzab Praha dan bahkan dari strukturalisme Prancis. Pandangan Lotman yaitu bahwa seni adalah salah satu cara manusia menjalin hubungan dengan dunia sekitarnya. Seni merupakan suatu sistem tanda-tanda yang menerima informasi, menyimpannya lalu mengalihkannya. Sebuah karya seni merupakan sebuah “teks”. Ini berlaku bagi setiap bentuk kesenian. Setiap cabang kesenian dapat kita pandang sebagai suatu bahasa. Karya-karya sastra merupakan “teks-teks” dalam bahasa alami. Sekelompok teks, seperti misalnya komedia Rusia pada abad ke-18 atau puisi Inggris yang metafisik dari abad ke-17, dapat dinamakan sebuah teks.
Sumber: Luxemburg, Jan van, dkk.1992.Pengantar Ilmu Sastra (Terjemahan Dick Hartoko).Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama
Estetika di duni barat sama tuanya dengan filsafat. Khususnya dalam filsafat Plato masalah estetika memainkan peranan yang sangat penting. Keindahan yang mutlak menurut Plato hanya terdapat tingkat dunia ide-ide, dan adanya dunia ide yang mengatasi kenyataan dunia illahi yang tidak langsung terjangkau oleh manusia. Tetapi yang paling banter dapat diketati lewat pemikiran. Para filsuflah yang pertama-tama dapat mendekati dunia Ide dengan harmoni yang ideal. Seniman tidak langsung dapat menjangkau dunia yang tertinggi itu. Dia terikat pada dunia nyata dari segi seni “ Is a thing of the most inferior value, a shadow “ ( suatu yang sangat rendah nilainya, bayangan), mimesis dalam arti peniruan. Plato menganggap seni secara tidak langsung berhubungan dengan hakikat benda-benda. “True art....strives to transcend the material world: in its poor images it tries to evocate something of that higher realm of being which also glimmers through phenomenal reality.... in true art likeness does not refer to commonplace reality but to ideal Beauty” (Verdenius 1949:18-19: seni sejati berusaha mengatasi dunia kenyataan. Dalam baying-bayang yang hina diusahakan menyarankan sesuatu dari duniayang lebih tinggi, yang juga terbayang dalam kenyataan fenomena... dalam seni sejati kemiripan tidak mengacu pada kenyataan sehari-hari, melainkan keindahan ideal. (Teeuw,A,1988 :347-348)
Antologi cerkak Blangkon sebuah ekspresi jiwa pengarang
Dunia karya sastra di Indonesia mengalami perkembangan yang begitu pesatnya. Terlihat dari banyaknya karya sastra yang beredar dalaam bentuk buku, majalah, media massa, maupun media elektronik. Hal itu memacu penulis novel maupun cerkak (crita cekak) dalam mengembangkan karya satra dengan bahasa Jawa sebagai media yang digunakan. Setelah sepeninggal dari R.Ronggowarsito karya sastra (prosa) Jawa mengalami fase yang baru menjadi karya sastra populer. Sempat dalam periode tertentu karya sastra Jawa mengalami sebuah fase stagnan atau bahkan mengalami kemunduran. Tidak ada perkembangan dalam bentuk kualitas maupun kuantitas. Pernah juga dalam fase yang dinamakan Pustaka. Pada saat itu karya sastra Jawa hanya berada pada posisi berada dalam sebuah majalah saja, seperti Panjebar Semangat. Jaya Baya, Mekar Sari dan lain-lain. Hal inilah yang membuat keprihatinan dalam perkembangan novel, roman maupun cerkak Jawa. Atas dasar itulah banyak individu, penullis maupun paguyuban yang mempunyai tekad yang kuat agar keberadaannya tetap dapat lestari. Karena suatu hal tetap ada jika senantiasa ada yang tetap melestarikan dan menjaganya. Terlepas dari hal tadi, karya sasta juga memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Banyak karya sastra yang menginsipirasi kehidupan atau sebaliknya karya sastra itu timbul karena kondisi yang ada. Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalm mengkaji sebuah karya sastra yang terdiri dari unsur-unsur yang membangun karya tadi menjadi kesatuan yang utuh. Pendekatan yang dapat digunakan untuk mengkaji diantaranya pendekatan objektif, pendekatan mimetik, pendekatan ekspresif dan pendekatan pragmatik. Pendekatan-pendekatan itu digunakan sesuai dengan kecenderungan unsur-unsur yang dimilki dalam karya sastra itu. Kerja keras para pencinta karya sastra Jawa tidaklah sia-sia. Banyak kita jumpai novel, roman, cerkak disekeliling kita, Salah satunya adalah buku dengan judul Blangkon, berisi kumpulan cerkak. Sebagai penikmat karya sastra, kita bisa memilah dan memilih karya mana yang cocok untuk pengembangan potensi yang ada. Antologi cerkak ini berisi 17 cerkak karya dari Pengarang-pengarang Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB). Pengarang itu diantaranya J.F.X Hoery, Djajus Pete. Yes Ismie Suryaatmaja dan lain-lain. Perbedaan ekspresi pengarang cukup terlihat dalam Blangkon. Setiap pengarang mempunyai gaya tersendiri daalm melihat objek karya sastra yang dibuat. Padahal mereka berasal dari daerah yang sama yaitu daerah Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban. Dengan background pekerjaan inti yang berbeda juga ikut berpengaruh dalam cerkak yang dibuatnya. Kiranya antologi cerkak ini dapat dikaji dengan semua pendekatan. Namun lebih cenderung dalam ekspresi yang berbeda yang ditunjukan pengarang terhadap objek karyanya. Jadi lebih cocok dikaji dengan pendekatan ekspresif. Banyak hal yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam hasil karya sastranya. Ungkapan atau luapan jiwa pengarang ini dapat berupa idiologi, gagasan, ajakan, kritik social yang berlaku di masyarakat atau bisa berupa apa saja yang diamati pengarang atau pengalaman batin pengarang yang dapat dituangkan dalam bentuk karya sastra. Banyak kontribusi pengarang yang dituangkan lewat karyanya. Peran diluar ilmu sastra sangat besar pengaruhnya sebab jiwa dari pengarang ikut berbicara, sehingga dengan pendekatan ekspresif ini analisis psikologi sastra yaitu dengan melihatkan latar belakang kehidupan pengarang.
Nama : Rizka Muntashofillail NIM : 2102407092 Rombel : 4
Dening: Sudi Yatmana
Iwak lan Banyu
bareng wis ketatalan lagi padha kedhungsangan bareng kebukten kedaden banjur gelem open-open nyegah wegah preventif ora aktif jare ”prevention is better than cure’ tibake pupur sawise benjut benjut lendhut udud lan kang semrawut kebacut
negara kuwi apa ana ta sejatine Negara kuwi gegayuhan, kanyatan, apa wewayangan lamun gegayuhan geneya ora ginayuh kanthi iguh kanthi iguh wutuh pengkuh yen kanyatan geneya ora diakoni kakuranganan lan kaluputane kapara ditutupi nganggo pawadan pranatan jempalikan
negara kuwi duweke sapa panguwasa wong manca apa wong murka tumraping manungsa apa bedane warga bangsa karo sesama kepriye rasane sega lan agama
gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja kuwi panganan apa “salam sejahtera bagi kita semua” kuwi abang abang lambe mung melu melu bae apa ngece wose kahanane sangsaya nganyelake (maju tatu mundur ajur mandheg ambleg miring nggoling ndhoyong amblong)
akeh wong pinter pinter ngoyak oyak ngubak ubak nanging ora bisa nyandhak sing digugu wis ora lugu sing ditiru wis padha saru mula kerep bae saben saben muncul mangsalahe hora kena iwake malah butheg banyune
ANALISIS
Geguritan tersebut menggetarkan rasa semangat kebangsaan. Kita sebagai pembaca dapat merasakan bahwa puisi tersebut sangat menyentuh terutama bagi para pejabat tinggi negara. Geguritan tersebut seolah menyindir atau mengkritik para pejabat. Mereka sangat berperan dalam kehidupan dinegara ini. Negara akan hancur atau bangkit tergantung yang mengaturnya. Isi geguritan tersebut berisi tentang pengusaha yang tidak becus dalam mengolah negaranya. Peran pejabat dalam membangkitkan negaranya tidak berhasil. Mereka tidak memberikan teladan yang baik bagi rakyatnya melainkan menjerumuskan dan berperilaku tidak sesuai layaknya seorang pejabat. Mereka tidak pantas ditiru. Apabila ditiru negara kita akan hancur. Unsur-unsur yang dapat memberi keindahan geguritan tersebut terutama dari segi bahasa dan pemilihan kata. Bahasa yang digunakan dalam geguritan ini mudah dipahami karena tidak menggunakan kata-kata yang sulit. Dalam geguritan ini ada bebarapa pemilihan kata yang dapat memperindah geguritan tersebut. Pada baris ketiga ”nyegah wegah preventif ora aktif” setelah kita membacanya kita langsung dapar menemukan keindahan kata tersebut yaitu pada kata ”preventif” dan ”aktif”. Suku kata terakhir yang sama dapat menimbulkan keindahan geguritan tersebut. Pembaca juga dapat menikmatinya karena pembaca dapat merasakan keenakan dalam membacanya. Banyak baris-baris yang berpola seperti itu. Seperti pada baris ke-6, ke-8, ke-9 dan lain-lain. Sebagian kata dari bahasa inggris muncul dalam geguritan tersebut. Seperti pada baris ke-4 ”jare prevention is better than cure” Kombinasi bahasa jawa dengan bahasa inggris yang selaras dapat memberikan kesan keindahan dan menarik pembaca untuk membacanya berulang-ulang.
Nama : Rizka Fadhila Nim : 2102407049 Rombel : 03 Mata Kuliah : Estetika Jam Kuliah : Rabu, 11.00 WIB PENDAHULUAN
I. Latar Belakang Masalah Cerpen sebagai bagian dari karya sastra merupakan institusi sosial yang memakai medium bahasa. Hal ini dikarenakan pengarang selaku pencipta karya sastra berasal dari anggota masyarakat sehingga sedikit banyak masyarakat turut serta berperan memberikan inspirasi dalam keberadaan sebuah karya sastra. Hauzen dalam Nyoman Kutha Ratna berpendapat (2004:336) bahwa karya sastra lebih jelas mewakili ciri-ciri zamannya. Oleh sebab itu, karya sastra tidak pernah terlepas dari sosial kemasyarakatan sebagai zaman yang diwakilinya. Meskipun demikian, karya sastra bukan berarti sebagai peniruan dari masyarakat semata. Seperti pendapat Rene Wellek dan Austin Warren (1995:109) bahwa karya sastra merupakan lembaga estetik tidak berdasar lembaga sosial, bahkan bukan bagian dari lembaga sosial. Lembaga estetik adalah lembaga sosial dari satu tipe tertentu dan sangat erat berkaitan dengan tipe-tipe lainnya. Oleh karena itu, karya sastra bukan meniru tetapi juga mencerminkan dan mengekspresikan hidup. Menilik pada hakikatnya, karya sastra sebagai sumber estetika dan etika tidak dapat digunakan secara langsung melainkan hanya dapat menyarankan sehingga karya sastra merupakan cerminan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Peneliti kemudian mengambil antologi cerkak Gumregah (selanjutnya disingkat GM) sebagai obyek kajian sosiologi. Antologi cerkak GM ini diterbitkan oleh penerbit Pemerintah Propinsi Jawa Tengah dan Yayasan Studi Bahasa Jawa Kanthil Semarang tahun 2003. Ada beberapa alasan mengapa peneliti mengambil Antologi cerkak GM sebagai obyek kajian sosiologi. Pertama, antologi cerkak GM merupakan antologi yang diterbitkan pada tahun 2003 sehingga masih menarik untuk dikaji lebih dalam. Karena sifatnya yang masih baru, antologi cerkak GM tentulah belum banyak dikaji dalam penelitian. Kedua, pengarang sebagai bagian dari anggota masyarakat sedikit banyak terinspirasi menghasilkan karya sastra dari masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya pengkajian karya sastra antologi cerkak GM dari sudut sosiologis agar dapat dikupas lebih dalam isi dan tujuan karya sastra berkaitan dengan masalah sosial. Ketiga, sebagaimana dikemukakan Nyoman Kutha Ratna (2004:60) pendekatan sosiologis, khususnya untuk sastra indonesia, baik lama maupun modern menjanjikan lahan penelitian yang tidak akan pernah kering. Setiap hasil karya, baik dalam skala angkatan maupun individual, meneliti aspek-aspek sosial tertentu yang dapat dibicarakan melalui model-model pemahaman sosial. Dari pendapat tersebut diketahui bahwa sosiologis merupakan pendekatan yang tidak pernah lepas dari karya sastra sebab pendekatan sosiologis dapat digunakan untuk membantu memahami gender, feminis, status peranan, wacana sosial, dan memahami kehidupan manusia dalam masyarakat melalui sebuah karya sastra. Melihat kenyataan-kenyataan di atas, antologi cerkak GM perlu dikaji terutama dari sosial kemasyarakatan dan peniruannya dalam kehidupan nyata. Kajian sosial kemasyarakatan dan peniruannya dari kehidupan nyata akan memperkaya pemahaman antologi cerkak GM dari sudut sosiologis. Kajian ini menggunakan teori sosiologis-mimetik karena karya sastra lahir dari refleksi yang ada dalam kehidupan masyarakat nyata (mimetik). Kenyataan tersebut merupakan sesuatu yang telah ditafsirkan pengarang melalui karya sastra dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, pendekatan sosiologis bertumpu pada masyarakat sedangkan mimesis bertumpu pada karya sastra. Penggunaan teori sosiologis-mimetik untuk membedah karya sastra antologi cerkak GM diharapkan mampu mengungkap sosial kemasyarakatan dan refleksinya dalam kehidupan nyata. Terungkapnya sosial kemasyarakatan dan refleksinya dalam kehidupan nyata ini kemudian dapat membantu memberi pemahaman terhadap masyarakat dengan harapan terjadi perubahan perilaku setelah membaca karya tersebut dalam kerangka pemahaman serta pemaknaan.
Nama : Rizka Fadhila Nim : 2102407049 Rombel : 03 Mata Kuliah : Estetika Jam Kuliah : Rabu, 11.00 WIB
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang Masalah Cerpen sebagai bagian dari karya sastra merupakan institusi sosial yang memakai medium bahasa. Hal ini dikarenakan pengarang selaku pencipta karya sastra berasal dari anggota masyarakat sehingga sedikit banyak masyarakat turut serta berperan memberikan inspirasi dalam keberadaan sebuah karya sastra. Hauzen dalam Nyoman Kutha Ratna berpendapat (2004:336) bahwa karya sastra lebih jelas mewakili ciri-ciri zamannya. Oleh sebab itu, karya sastra tidak pernah terlepas dari sosial kemasyarakatan sebagai zaman yang diwakilinya. Meskipun demikian, karya sastra bukan berarti sebagai peniruan dari masyarakat semata. Seperti pendapat Rene Wellek dan Austin Warren (1995:109) bahwa karya sastra merupakan lembaga estetik tidak berdasar lembaga sosial, bahkan bukan bagian dari lembaga sosial. Lembaga estetik adalah lembaga sosial dari satu tipe tertentu dan sangat erat berkaitan dengan tipe-tipe lainnya. Oleh karena itu, karya sastra bukan meniru tetapi juga mencerminkan dan mengekspresikan hidup. Menilik pada hakikatnya, karya sastra sebagai sumber estetika dan etika tidak dapat digunakan secara langsung melainkan hanya dapat menyarankan sehingga karya sastra merupakan cerminan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Peneliti kemudian mengambil antologi cerkak Gumregah (selanjutnya disingkat GM) sebagai obyek kajian sosiologi. Antologi cerkak GM ini diterbitkan oleh penerbit Pemerintah Propinsi Jawa Tengah dan Yayasan Studi Bahasa Jawa Kanthil Semarang tahun 2003. Ada beberapa alasan mengapa peneliti mengambil Antologi cerkak GM sebagai obyek kajian sosiologi. Pertama, antologi cerkak GM merupakan antologi yang diterbitkan pada tahun 2003 sehingga masih menarik untuk dikaji lebih dalam. Karena sifatnya yang masih baru, antologi cerkak GM tentulah belum banyak dikaji dalam penelitian. Kedua, pengarang sebagai bagian dari anggota masyarakat sedikit banyak terinspirasi menghasilkan karya sastra dari masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya pengkajian karya sastra antologi cerkak GM dari sudut sosiologis agar dapat dikupas lebih dalam isi dan tujuan karya sastra berkaitan dengan masalah sosial. Ketiga, sebagaimana dikemukakan Nyoman Kutha Ratna (2004:60) pendekatan sosiologis, khususnya untuk sastra indonesia, baik lama maupun modern menjanjikan lahan penelitian yang tidak akan pernah kering. Setiap hasil karya, baik dalam skala angkatan maupun individual, meneliti aspek-aspek sosial tertentu yang dapat dibicarakan melalui model-model pemahaman sosial. Dari pendapat tersebut diketahui bahwa sosiologis merupakan pendekatan yang tidak pernah lepas dari karya sastra sebab pendekatan sosiologis dapat digunakan untuk membantu memahami gender, feminis, status peranan, wacana sosial, dan memahami kehidupan manusia dalam masyarakat melalui sebuah karya sastra. Melihat kenyataan-kenyataan di atas, antologi cerkak GM perlu dikaji terutama dari sosial kemasyarakatan dan peniruannya dalam kehidupan nyata. Kajian sosial kemasyarakatan dan peniruannya dari kehidupan nyata akan memperkaya pemahaman antologi cerkak GM dari sudut sosiologis. Kajian ini menggunakan teori sosiologis-mimetik karena karya sastra lahir dari refleksi yang ada dalam kehidupan masyarakat nyata (mimetik). Kenyataan tersebut merupakan sesuatu yang telah ditafsirkan pengarang melalui karya sastra dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, pendekatan sosiologis bertumpu pada masyarakat sedangkan mimesis bertumpu pada karya sastra. Penggunaan teori sosiologis-mimetik untuk membedah karya sastra antologi cerkak GM diharapkan mampu mengungkap sosial kemasyarakatan dan refleksinya dalam kehidupan nyata. Terungkapnya sosial kemasyarakatan dan refleksinya dalam kehidupan nyata ini kemudian dapat membantu memberi pemahaman terhadap masyarakat dengan harapan terjadi perubahan perilaku setelah membaca karya tersebut dalam kerangka pemahaman serta pemaknaan.
Nama : Desi Dwi Purnamasari NIM : 2102407117 Rombel : 05
Analisis tembang “Dawet Ayu”
1. Instrumen Musik Pada awal lagu, bonang sebagai grambyangan mengawali semua instrument yang ada. Setelah itu, semua instrumen ditabuh dengan jelas dalam tempo sedang diikuti dengan tepukan tangan. Ketika vocal sudah terdengar, semua instrument terdengar lirih, seperti; kendang, kenong, dan bonang ditabuh dengan pukulan lirih. Alunan suara siter membuat suasana yang ingin disampaikan tercapai. Setelah lagu dinyanyikan, semua instrument kembali terdengar jelas. Di akhir lagu, baik semua instrument maupun lagu dimainkan semakin pelan hingga berhenti.
2. Lirik Lirik pada lagu Dawet Ayu ini terkesan sangat puitis. Penyanyi menggambarkan keadaan pasar yang ramai, yang di sana terdapat banyak lelaki yang mengagumi kecantikan seorang penjual dawet. Penyayi juga sempat menyandra bagaimana diri seorang penjual dawet itu. Seperti senyum, tingkah laku, dan sebagainya yang diungkapkan melalui bahasa kiasan sehingga terkesan sangat merayu dan puitis. Lirik lagu dinyanyikan empat kali. Hal ini menambah kejelasan akan makna yang terkandung dalam lagu.
3. Vokal Lagu dinyanyikam oleh para sinden dengan jelas. Di belakangnya muncul suara lelaki yang semakin menambah makna daripada lagu. Lelaki sebagai perayu seorang penjual dawet Jelas terlihat di sini yang ingin ditekankan adalah keinginan yang kuat daripada kaum lelaki untuk melihat kecantikan seorang wanita. Suara mengalun merdu. Perpaduan yang sempurna, seimbang, dan saling mendukung satu sama lain.
4. Instrumen yang terdapat dalam tembang “Dawet Ayu”, antara lain sebagai berikut. 1. Kendang Sepanjang lagu kendang-lah instrument yang paling dominan ditabuh. Tempo disesuaikan dengan kebutuhan untuk membangun suasana yang diinginkan. Kadang cepat, kadang pelan, kadang lambat, dan kadang agak cepat.
2. Bonang. Meliputi bonang barung dan bonang penerus. Bonang barung menjadi awal/grambyangan daripada lagu. Ketika lirik tidak dinyanyikan, kedua instrument ini terdengar jelas. Bonang ditabuh dengan pola tertentu. Pola gembyang pada saat intro, dan pola imbal pada saat masuk ke lagu. Suara yang dihasilkan antara bonang barung dan bonang penerus terdengar seirama.
3. Siter Selain kendhang, siter juga terdengar dominan, dibunyikan sepanjang lagu, membuat suasana gayeng, dan tentram, juga membuat kesan romantis.
4. Rebab. Rebab dibunyikan sewaktu-waktu untuk membantu menghasilkan kesan romantis. Rebab dibunyikan seiring dengan siter.
5. Slenthem. Pada saat lagu, suara slenthem baru akan terdengar keras. Sedangkan pada saat intro, suara slenthem kalah dengan suara instrument yang lain. Dipukul dengan pola teratur dan pelan.
6. Saron dan Demung Saron dan demung dipukul pelan saat lagu, dan keras pada saat intro.sesuai dengan kunci. Hal ini dilakukan supaya pada saat lagu suara vocal akan terdengar keras dan untuk menciptakan kesan estetis.
7. Kenong. Kenong dipukul keras. Dengan pola dipukul pada hitungan ke-2, ke-4, dan ke-6. Hal ini sebagai penyelaras agar suara yang dihasilkan menjadi seimbang dan indah.
8. Kempul Gong. Kempul ditabuh sepanjang lagu dengan pola pukul pada hitungan ke-3, ke-5, dan ke-7 dengan variasi tertentu. Sedangkan gong suwukan dipukul pada awal atau buka dan hitungan ke-8. Gong gedhe Dipukul pada awal lagu dan ahkhir lagu.
Nama : Rizka Muntashofillail NIM : 2102407092 Ronbel: 4
Tugas 7. Analisis geguritan
Manuk-manuk Emprit ing Pucuk Pring
manuk emprit kang nyusuh ing pucuk pring cedhak kali ngarep omahku kerep genteyongan digawe dolanan angin yen banjir teka pucuk pring kasempyok-sempyok banyu nanging angkluh wae ora tau yen anak-anake pating jerit ana pitutur saka emboke emprit --ya papan kang kaya mengkene iki kang isih nyisa lan rada aman jalaran anan-anak menungsa ora bisa ganggu kowe kabeh isih begja jalaran isih nduweni kamardikan senajan ora sepiroa kamangka liyane mung kari crita malah akeh kang ora percaya yen nyata tau ana
Dening: Sunardi KS Penjebar Semangat. 20 Januari 2007 Edisi: 3
Nilai estesis dalam geguritan ini yang paling menonjol adalah dari segi makna. Saya tertarik dengan geguritan tersebut karena maknanya sangat mendalam yaitu menceritakan kehidupan seseorang yang selalu bersyukur atas apa yang sudah ia dapatkan. Dalam geguritan ini seseorang yang diibaratkan sebagai burung emprit. Seekor burung emprit yang selalu semangat dan tidak putus asa ketika ia mendapatkan kesusahan. Dalam situasi yang seperti itu ia masih saja memberi semangat kepada anak-anaknya agar sadar akan bersyukur kepada Tuhan karena mereka masih beruntung dibanding teman-teman yang lain. Semoga pembaca dapat merenungkan kehidupan manuk emprit tersebut. Selain itu bahasanya juga mudah dipahami jadi nilai estesis geguritan tersebut juga mudah untuk dimengerti pembaca. Dalam geguritan ini baris satu dengan baris yang lainnya ada yang diakhiri bunyi yang sama sehingga dapat memperindah pembacaan geguritan tersebut. Misalnya: 1. yen banjir teka pucuk pring kasempyok-sempyok banyu nanging angkluh wae ora tau Kedua baris tersebut mempunyai persamaan bunyi pada huruf “u” 2. yen anak-anake pating jerit ana pitutur saka emboke emprit Kedua baris tersebut mempunyai persamaan bunyi pada kata “it” 3. senajan ora sepiroa kamangka liyane mung kari crita malah akeh kang ora percaya yen nyata tau ana Ketiga baris tersebut mempunyai persamaan bunyi pada huruf “a”
Pengertian Estetika Secara historis, estetika merupakan bagian filsafat. Pada perkembangan awal ini estetika disebut dengan istilah keindahan, merupakan bagian filsafat metafisika. Secara etimologis(Shipley,1957:21) estetika berasal dari bahasa Yunani, yaitu: aistheta, yang juga diturunkan dari aisthe. Pada umumnya aisthe diposisikan dengan noeta, dari akar kata noein, nous, yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan pikiran. Dalam pengertian yang lebih luas berarti kepekaan untuk menanggapi suatu objek, kemampuan pencerapan indra, sebagai sensitivitas. Dalam bahasa Inggris menjadi aesthetics atau esthetics(studi tentang keindahan). Orang yang sedang menikmati keindahan disebut aesthete, sedangkan ahli keindahan disebut aesthetecian. Dalam bahasa Indonesia menjadi estetikus, estetis, dan estetika,yang masing-masing berarti orang yang ahli dalam bidang keindahan, bersifat indah, dan ilmu atau filsafat tentang keindahan, atau keindahan itu sendiri.
Periode pertama disebut dogmatik karena secara apriori mereka percaya terhadap kemampuan rasio tanpa mengadakan pemahaman mendalam terlebih dahulu. Sokrates adalah pelopor teori estetika, meskipun pada masanya istilah estetika belum ditemukan. Istilah yang digunakan adalah keindahan sendiri itu sebagaimana ditunjukkan melalui berbagai dialog antara Sokrates dan Hippias (Wadjiz Anwar,8-9). Sebagai peletak dasar teori keindahan melalui berbagai perdebatan filosofisnya, sokrates menemukan kesimpulan, pertama, ada benda-benda yang indah, sesuai dengan sifat dan ciri-cirinya masing-masing. Kedua, ada gagasan umum mengenai keindahan, yang menyebabkan benda yang dimaksudkan menjadi indah. Tesis pertama menunjukkan bahwa keindahan bukanlah sifat khas objek tertentu, baik makhluk hidup maupun benda-benda mati, baik gadis cantik maupun bidadari. Tesis kedua menunjukkan bahwa keindahan adalah gagasan umum, yang dapat dipindah-pindahkan, memiliki bentuk dan nilai yang berubah-ubah, sehingga apabila ia ada pada objek tertentu, maka objek tersebut dapat dikatakan indah. Objek itulah yang pada gilirannya berutang pada keindahan sebab semata-mata atas dasar melekatnya keindahanlah maka objek menjadi indah.
Bonang, bonang ini adalah instrumen yang mengawali permainan musik gamelan ini, bonang ini dibunyikan keras pada saat awal mulai.
kendhang, kendhang adalah instrumen yang bisa disebut sopir dalam gamelan, karena kendhang yang mengatur cepat lambatnya suatu musik gamelan, dalam lancaran ini, kendhangnya bagus dan bervariasi.
demung, demung disini adalah yang begitu runtut dalam membunyikannya, karena semua notasi dimainkan, demung dalam lancaran ini jelas sekali, tetapi jika sudah masuk lagu, sangat pelan, yang jelas terdengar adlah suara slenthem dan peking.
slenthem dalam lancaran ini, ketika belum memasuki lagu, suaranya tidak begitu terdengar, namun jiak sudah memasuki lagu. dapat terdengar dengan indah.
saron, saron sama seperti demung dalam membunyuikannya, antara saron dan demung sangat selaras sehingga terdengar indah.
gong, gong ini biasanya dibunyikan pada awal setelaqh kendang dan akhir ketika mau selesai, namun itu untuk gong gedhe, jika untuk kempul, itu dibunyikan pada hitungan ganjil, dengan suaranya yang khas, membuat lancaran ini, terdengar bagus.
peking, cara mambunyikaknya dipukul dua kali dan denga suaranya yang nyaring membuat lancaran terasa bernada tinggi.
kenong, kenong dibunyikan pada hitungan genap, dan terdengar ngebas, sehingga menimbulkan kesan yang gagah.
kethuk, membunyikannya hitungan sama denga bonang, dan unik untuk didengar.
Nama : Rizka Fadhila
BalasHapusNim : 2102407049
Rombel : 03
CATHETAN KLAWU PAMBUKA NING
TAUN 1990
jenengku becak
angkutan murah sing wis mratah
merga diwawas ora manusiawi
jenengku becak
sing sasuwene iki dadi garane wong-wong cilik
ing satengahing jaman sing mengkrik-mengkrik
biyen aku diguwang ing segara
lan aku ora kuwawa nyuwara
saiki aku dioyak-oyak
geneya atimu ora kewiyak?
wis tau kowe lara
aku ngeterake menyang rumah sakit
udane lagi bae neba
nanging aku ora jerit-jerit
apa maneh mendhem pangigit-igit
rikala kowe blanja
barang-barangmu dakangkut rosa
sing mangkene iki malah saben dina
jenengku becak
angkutan murah sing wis kebacut mratah
lan dadi napase wong sakhohah
saiki aku kudu oncat saka DKI
embuh urip embuh mati
geneya ora koktangisi?
Dening: Keliek Eswe
Jaya Baya, edisi 31 terbit 1 april 1990
Menurut pandangan saya, geguritan ini memiliki nilai-nilai estetis pada beberapa aspek seperti penggunaan alur dramatik, rima atau persajakan, dan penggunaan gaya bahasa.
Dipandang dari segi alur, geguritan ini memuat nilai-nilai estetis melalui penggunaan alur dramatik yang jelas. Penyair membuat alur dalam karyanya menjadi runtut sehingga mudah dipahami oleh penikmat sastra. Pelukisan alur pada geguritan ini diawali dengan pengenalan yaitu memberikan informasi awal tentang “aku” sebagai becak pada bait pertama. Pada bait kedua penyair mulai menegaskan informasi bahwa “aku” sebagai becak hanya kepunyaan rakyat kecil di tengah zaman modernisasi. Selanjutnya, pada bait ketiga penyair mengungkapkan pemunculan konflik yaitu becak yang harus dimusnahkan seperti dibuang ke laut. Penyair mempertanyakan sikap masyarakat yang biasa saja menanggapi kejadian tersebut padahal selama ini becak telah menjadi kendaraan familiar yang berperan penting dalam mobilitas masyarakat. Pada bait keempat dan kelima, penyair menggiring masalah untuk memunculkan klimaks bahwa bagaimana jadinya mobilitas masyarakat tanpa becak karena becak selama ini dijadikan alat transportasi penting yang digunakan masyarakat seperti mengantar orang ke rumah sakit dan mengangkut barang-barang belanja. Sebagai penutup dari geguritan, penyair menunjukkan titik intensitas puncak konflik yaitu larangan becak beroperasi di DKI. Selain itu, penyair memberikan penyelesaian konflik melalui penyerahan sikap masyarakat dalam menanggapi masalah tersebut. Jika digambarkan melalui urutan, maka alur dramatik dalam geguritan ini dapat dilihat sebagai berikut :
Pengenalan :bait 1
Penguatan :bait 2
Pemunculan :bait 3
Penanjakan konflik :bait 4 dan 5
Klimaks dan penyelesaian :bait6
Selain alur dramatik, geguritan ini mengandung nilai-nilai estetis melalui pemakaian gaya bahasa seperti majas. Penyair mencoba mengekspresikan perasaannya kepada penikmat sastra melalui majas personifikasi pada bait keempat baris keempat yaitu nanging aku ora jerit-jerit. Pada kalimat tersebut, penyair seolah-olah menyifatkan becak seperti manusia yang memiliki sifat histeria atau menjerit-jerit.
Selain itu, penyair juga mencoba memainkan rima atau persajakan melalui asonansi yaitu penggunaan unsur vokal yang sama dan aliterasi yaitu penggunaan unsur konsonan yang sama untuk memunculkan nilai-nilai estetis. Sebagai contoh pada bait ketiga, penyair memunculkan unsur vokal a serta unsur konsonan y dan k dalam setiap akhir baris pada satu bait.
biyen aku diguwang ing segara
lan aku ora kuwawa nyuwara
saiki aku dioyak-oyak
geneya atimu ora kewiyak?
Nama : Rizka Fadhila
BalasHapusNim : 2102407049
Rombel : 03
CATHETAN KLAWU PAMBUKA NING
TAUN 1990
jenengku becak
angkutan murah sing wis mratah
merga diwawas ora manusiawi
jenengku becak
sing sasuwene iki dadi garane wong-wong cilik
ing satengahing jaman sing mengkrik-mengkrik
biyen aku diguwang ing segara
lan aku ora kuwawa nyuwara
saiki aku dioyak-oyak
geneya atimu ora kewiyak?
wis tau kowe lara
aku ngeterake menyang rumah sakit
udane lagi bae neba
nanging aku ora jerit-jerit
apa maneh mendhem pangigit-igit
rikala kowe blanja
barang-barangmu dakangkut rosa
sing mangkene iki malah saben dina
jenengku becak
angkutan murah sing wis kebacut mratah
lan dadi napase wong sakhohah
saiki aku kudu oncat saka DKI
embuh urip embuh mati
geneya ora koktangisi?
Dening: Keliek Eswe
Jaya Baya, edisi 31 terbit 1 april 1990
Menurut pandangan saya, geguritan ini memiliki nilai-nilai estetis pada beberapa aspek seperti penggunaan alur dramatik, rima atau persajakan, dan penggunaan gaya bahasa.
Dipandang dari segi alur, geguritan ini memuat nilai-nilai estetis melalui penggunaan alur dramatik yang jelas. Penyair membuat alur dalam karyanya menjadi runtut sehingga mudah dipahami oleh penikmat sastra. Pelukisan alur pada geguritan ini diawali dengan pengenalan yaitu memberikan informasi awal tentang “aku” sebagai becak pada bait pertama. Pada bait kedua penyair mulai menegaskan informasi bahwa “aku” sebagai becak hanya kepunyaan rakyat kecil di tengah zaman modernisasi. Selanjutnya, pada bait ketiga penyair mengungkapkan pemunculan konflik yaitu becak yang harus dimusnahkan seperti dibuang ke laut. Penyair mempertanyakan sikap masyarakat yang biasa saja menanggapi kejadian tersebut padahal selama ini becak telah menjadi kendaraan familiar yang berperan penting dalam mobilitas masyarakat. Pada bait keempat dan kelima, penyair menggiring masalah untuk memunculkan klimaks bahwa bagaimana jadinya mobilitas masyarakat tanpa becak karena becak selama ini dijadikan alat transportasi penting yang digunakan masyarakat seperti mengantar orang ke rumah sakit dan mengangkut barang-barang belanja. Sebagai penutup dari geguritan, penyair menunjukkan titik intensitas puncak konflik yaitu larangan becak beroperasi di DKI. Selain itu, penyair memberikan penyelesaian konflik melalui penyerahan sikap masyarakat dalam menanggapi masalah tersebut. Jika digambarkan melalui urutan, maka alur dramatik dalam geguritan ini dapat dilihat sebagai berikut :
Pengenalan :bait 1
Penguatan :bait 2
Pemunculan konflik :bait 3
Penanjakan :bait 4 dan 5
Klimaks dan penyelesaian :bait 6
Selain alur dramatik, geguritan ini mengandung nilai-nilai estetis melalui pemakaian gaya bahasa seperti majas. Penyair mencoba mengekspresikan perasaannya kepada penikmat sastra melalui majas personifikasi pada bait keempat baris keempat yaitu nanging aku ora jerit-jerit. Pada kalimat tersebut, penyair seolah-olah menyifatkan becak seperti manusia yang memiliki sifat histeria atau menjerit-jerit.
Selain itu, penyair juga mencoba memainkan rima atau persajakan melalui asonansi yaitu penggunaan unsur vokal yang samadan aliterasi yaitu penggunaan unsure konsonan yang sama untuk memunculkan nilai-nilai estetis. Sebagai contoh pada bait ketiga, penyair memunculkan unsur vokal a serta unsur konsonan y dan k dalam setiap akhir baris pada satu bait.
biyen aku diguwang ing segara
lan aku ora kuwawa nyuwara
saiki aku dioyak-oyak
geneya atimu ora kewiyak?
BINTARI KURNIAWATI
BalasHapus2102407141
ROMBEL 05
Sejarah Perkembangan Estetika
Periode Klasik
Pandangan Plato dan Aristoteles Mengenai Mimesis
1. Pandangan Plato Mengenai Mimesis
Pandangan Plato mengenai mimesis sangat dipengaruhi oleh pandangannya mengenai konsep Idea-idea yang kemudian mempengaruhi bagaimana pandangannya mengenai seni.
Plato menganggap Idea yang dimiliki manusia terhadap suatu hal merupakan sesuatu yang sempurna dan tidak dapat berubah. Idea merupakan dunia ideal yang terdapat pada manusia. Idea oleh manusia hanya dapat diketahui melalui rasio,tidak mungkin untuk dilihat atau disentuh dengan panca indra. Idea bagi Plato adalah hal yang tetap atau tidak dapat berubah, misalnya idea mengenai bentuk segitiga, ia hanya satu tetapi dapat ditransformasikan dalam bentuk segitiga yang terbuat dari kayu dengan jumlah lebih dari satu . Idea mengenai segitiga tersebut tidak dapat berubah, tetapi segitiga yang terbuat dari kayu bisa berubah (Bertnens1979:13).
Berdasarkan pandangan Plato mengenai konsep Idea tersebut, Plato sangat memandang rendah seniman dan penyair dalam bukunya yang berjudul Republic bagian kesepuluh. Bahkan ia mengusir seniman dan sastrawan dari negerinya. Karena menganggap seniman dan sastrawan tidak berguna bagi Athena, mereka dianggap hanya akan meninggikan nafsu dan emosi saja. Pandangan tersebut muncul karena mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan hanya akan menghasilkan khayalan tentang kenyataan dan tetap jauh dari ‘kebenaran’. Seluruh barang yang dihasilkan manusia menurut Plato hanya merupakan copy dari Idea, sehingga barang tersebut tidak akan pernah sesempurna bentuk aslinya (dalam Idea-Idea mengenai barang tersebut). Sekalipun begitu bagi Plato seorang tukang lebih mulia dari pada seniman atau penyair. Seorang tukang yang membuat kursi, meja, lemari dan lain sebagainya mampu menghadirkan Idea ke dalam bentuk yang dapat disentuh panca indra. Sedangkan penyair dan seniman hanya menjiplak kenyataan yang dapat disentuh panca indra (seperti yang dihasilkan tukang), mereka oleh Plato hanya dianggap menjiplak dari jiplakan (Luxemberg:16).
Menurut Plato mimesis hanya terikat pada ide pendekatan. Tidak pernah menghasilkan kopi sungguhan, mimesis hanya mampu menyarankan tataran yang lebih tinggi. Mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan tidak mungkin mengacu secara langsung terhadap dunia ideal. (Teew.1984:220). Hal itu disebabkan pandangan Plato bahwa seni dan sastra hanya mengacu kepada sesuatu yang ada secara faktual seperti yang telah disebutkan di muka. Bahkan seperti yang telah dijelaskan di muka, Plato mengatakan bila seni hanya menimbulkan nafsu karena cenderung menghimbau emosi, bukan rasio (Teew. 1984:221).
2. Pandangan Aristoteles Mengenai Mimesis
Aristoteles adalah seorang pelopor penentangan pandangan Plato tentang mimesis, yang berarti juga menentang pandangan rendah Plato terhadap seni. Apabila Plato beranggapan bahwa seni hanya merendahkan manusia karena menghimbau nafsu dan emosi, Aristoteles justru menganggap seni sebagai sesuatu yang bisa meninggikan akal budi. Teew (1984: 221) mengatakan bila Aristoteles memandang seni sebai katharsis, penyucian terhadap jiwa. Karya seni oleh Aristoteles dianggap menimbulkan kekhawatiran dan rasa khas kasihan yang dapat membebaskan dari nafsu rendah penikmatnya.
Aristoteles menganggap seniman dan sastrawan yang melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dari kenyataan indrawi yang diperolehnya. Dalam bukunya yang berjudul Poetica (via Luxemberg.1989:17), Aristoteles mengemukakakan bahwa sastra bukan copy (sebagaimana uraian Plato) melainkan suatu ungkapan mengenai “universalia” (konsep-konsep umum). Dari kenyataan yang menampakkan diri kacau balau seorang seniman atau penyair memelih beberapa unsur untuk kemudian diciptakan kembali menjadi ‘kodrat manusia yang abadi’, kebenaran yang universal. Itulah yang membuat Aristoteles dengan keras berpendapat bahwa seniman dan sastrawan jauh lebih tingi dari tukang kayu dan tukang-tukang lainnya.
Pandangan positif Aristoteles terhadap seni dan mimesis dipengaruhi oleh pemikirannya terhadap ‘ada’ dan Idea-Idea. Aristoteles menganggap Idea-idea manusia bukan sebagai kenyataan. Jika Plato beranggapan bahwa hanya idea-lah yang tidak dapat berubah, Aristoteles justru mengatakan bahwa yang tidak dapat berubah (tetap) adalah benda-benda jasmani itu sendiri. Benda jasmani oleh Aristoteles diklasifikasikan ke dalam dua kategori, bentuk dan kategori. Bentuk adalah wujud suatu hal sedangkan materi adalah bahan untuk membuat bentuk tersebut, dengan kata lain bentuk dan meteri adalah suatu kesatuan (Bertens.1979: 13).
tugas II sejarah perkembangan estetika
BalasHapusstefanus kresna d.
2102407155
R.4
Sejarah perkembangan estetika menurut Plato
Seni tidak dapat diandalkan sebagai sumber pengetahuan Realitas. Pandangan ini sedikit berbeda dengan pemahaman Aristoteles yang juga meyakini bahwa seni adalah imitasi, tetapi karena proses imitasi itu melibatkan kemampuan akal dan roh manusia maka hasil karya seni memiliki keandalan yang sama sebagai sumber pengetahuan sebagaimana halnya kenyataan alam.
Lebih jauh, Plotinus menafsirkan bahwa karya seni memiliki posisi yang lebih tinggi sebagai sumber pengetahuan dibanding alam karena dalam proses penciptaannya karya seni melibatkan unsur roh ketuhanan yang dimiliki manusia. Dalam tradisi seni Barat, ajaran seni sebagai Imitasi memiliki dampak yang luas dan panjang, seperti nampak pada dominasi gaya Realisme.
Di luar pemahaman seni sebagai Imitasi, estetika filosofis memiliki puluhan jawaban tentang hakekat seni dan keindahan. Melvin Rader, dalam bukunya A Modern Book of Esthetics menunjuk berbagai pengertian seni : seni sebagai Bentuk, Ekspresi, Ilusi, Jarak Estetik, Main, Kesenangan, Simbol, Keindahan, Emosi, Fungsi, Penyadaran dan lain sebagainya.
Dalam konteks penelitian, metodologi atau pendekatan dalam estetika filosofis yang cenderung spekulatif dianggap tidak memenuhi standar penelitian ilmiah. Dalam hal ini, kita dapat melangkah pada pembahasan estetika yang lain yaitu estetika yang bersifat keilmuan.
Terutama pada akhir abad 19 dan awal abad 20 berbagai cabang ilmu kemanusiaan dan ilmu sosial mulai mengarahkan minat pada fenomena seni sehingga secara berturut-turut dapat ditunjuk pertumbuhan sub-disiplin seperti Sejarah Seni, Antropologi Seni, Psikologi Seni, Sosiologi Seni, Manajemen Seni.
Cabang-cabang disiplin ini selain disebut sebagai Estetika Keilmuan, juga sering disebut dengan ilmu-ilmu seni. Estetika keilmuan atau ilmu-ilmu seni ini dalam pendekatannya bersifat empiris dan mengikuti tahap-tahap penelitian ilmiah seperti observasi, klasifikasi data, pengajuan hipotesis, eksperimen, analisis, dan penyimpulan teori atau dalil. Selain itu, pendekatan empiris pada karya seni melahirkan disiplin lain mencakup kritik seni, morfologi estetik, dan semiotik.
Nama : Dani Kartika Hapsari
BalasHapusNIM: 2102407002
Rombel : 1
Tugas : 1 (pertama)
1. Keindahan
Menurut pandangan yang ada dalam philebus, dnyatakan bahwa yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling “sederhana”, umpamanya nada sederhana, warna yang sederhana. Yang dimaksud sederhana adalah bentuk dan ukuran yang tidak dapat diberi batasan lebih lanjut berdasarkan sesuatu yamg lebih indah lagi.
2. Nilai estetik
Kekayaan alam seperti lautan, gunung, danau, dan lain-lain adalah suatu karya seni. Seniman akan mendapatkan banyak inspirasi untuk karya seninya dari alam beserta isinya. Nilai estetik seni yang terbesar berasal dari alam. Jika kita bisa memaksimalkan seluruh panca indra kita untuk menikmati keindahan alam ini, maka kita akan menemukan berbagai macam karya seni yang tak ternilai harganya. Indra penglihatan, dapat kita gunakan untuk melihat pemandangan alam, hal tersebut bisa dijadikan inspirasi dalam melukis. Indra pendengaran, dapat kita gunakan untuk mendengar bunyi-bunyi yang diciptakan oleh alam seperti bunyi gemericik aliran air di sungai dan kicauan burung, semua itu dapat kita jadikan inspirasi dalam ilustrasi musik. Indra perasa, dapat kita gunakan untuk merasakan sejuk dan panasnya udara serta semilir angin yang sepoi-sepoi., hal tersebut dapat kita jadikan referensi dalam teater dan gerak tari. Indra peraba, dapat kita gunakan untuk meraba tumbuh-tumbuhan dan hewan, semua itu dapat digunakan untuk referensi pahatan patung. Alangkah berharganya alam ini jika kita sebagai seorang manusia mampu memperhatikan secara detail apa yang dimiliki oleh alam.
3. Pengalaman estetis
Dewasa ini, banyak orang mengkaji dan membaca sastra, tetapi sesungguhnya mereka mengabaikan sastra. Dalam mengkaji sastra, mereka tidak seperti kalangan kritikus yang melihat sastra sebagai medium kesenian yang bernilai pada dirinya sendiri. Karena di mata mereka, sastra hanyalah suatu teks budaya atau dokumen sosial yang mengandung-di baliknya atau di luarnya-praktik-praktik penandaan (signifying practices) yang selalu merupakan hubungan kekuasaan yang timpang. Dan, sastra dikaji dengan kepentingan menyingkap bekerjanya kontestasi kuasa dalam setiap praktik penandaan itu.
4. Keindahan Alam
keindahan alam adalah suatu kekuatan alam yang mampu memberikan rasa enak, nyaman, dan senang saat kita menikmatinya dengan cara apapun, entah itu dari melihat, mendengar atau apapun dengan semua panca indera yang kita miliki.
5. art adalah seni, sebuah kata dari Bahasa Inggris “art”. Seni adalah suatu karya ciptaan manusia yang memiliki keindahan sesuai dengan peradaban, pada masanya atau sesuai dengan karakter penciptanya.
6. Karya seni yaitu sesuatu yang dihasilkan oleh seseorang yang berasal dari rasa, cipta, dan karsa.
7. Seni Murni yaitu suatu bentuk seni yang hanya dapat dilihat keindahannya, misal lukisan, kaligrafi, dan patung. Dan seni murni ini hanya dapat dinikmati keindahannya saja.
8. Artifisial adalah sesuatu yang tidak alami atau buatan.
9. licentia poetica adalah kebebasan seorang penyair untuk memainkan kata atau bahasa sehingga dapat menimbulkan efek keindahan dalam karyanya.
10. unity adalah kesatuan
harmony : keselarasan
symmetry : sepada/sama rata
balance : seimbang
contrast : kebalikan
Nama : Dani Kartika Hapsari
NIM: 2102407002
Rombel : 1
Tugas : 2 ( dua )
Perkembangan pemikiran estetika
Periode Kritik
A.Relativisme
• Relativisme adalah suatu aliran atau paham yang mengajarkan bahwa kebenaran itu ada, akan tetapi kebenaran itu tidak mempunyai sifat mutlak.
• Istilah relativisme diangkat dari kata relatif, berasal dari kata latin reffere: membawa, mengacu, menghubungkan . dari situ timbullah kata relatio yang artinya relasi: hubungan, ikatan. Relativisme: adanya ikatan, adanya keterbatasa, nisbi.
B.SubjektiVisme
• Subjectivism: the restriction of knowledge to the knowing subject and its sensory. Affective and volitional states and to such external realities as may be inferred from the mind’s subjection states. (Subjectivism: aliran yang membatasi pengetahuan pada hal-hal (objek) yang dapat diketahui dan dirasa. Kecendrungan dan kedudukan kemauan pada realitas eksternal sebagai sesuatu yang bisa ditinjau dari pemikiran yang subjektif).
Sejarah Filsafat Barat :
Sejarah filsafat barat bisa dibagi menurut pembagian berikut : filsafat klasik, abad pertengahan, modern, dan kontemporer.
Filsafat Modern (Zaman Modern 1500M-1800M)
- Aliran Rasionalisme
- Aliran Empirisme
- Aliran Kritisisme
Pelopor aliaran ini adalah Immanuel Kant. Kant berpendapat bahwa pengetahuan tentang dunia berasal dari indera tetapi dalam akal ada factor-faktor yang menentukan bagaimana cara memandang dunia sekitar. Dia setuju dengan Hume bahwa kita tidak mengetahui secara pasti seperti apa dunia “itu sendiri” (“das Ding an sich”). Namun dunia itu hanya seperti tampak “bagiku” atu “bagi semua orang”.
Dia memulai suatu “filsafat kritis”, yang tidak mau melewati batas-batas kemungkinan pemikiran manusiawi. Menurut Kant metafisika menjadi suatu ilmu, yaitu “ilmu tentang batas-batas pemikiran manusiawi
Pemikiran filsafat pada masa sebelum Kant merupakan perubahan haluan filsafat umum dari objektivisme ke arah subjektivisme relatif oleh Descartes.
bahwa empirisme sekalipun mulai dengan ajaran yang murni tentang pengalaman, tetapi melalui idealisme subjektif bermuara pada suatu skeptisisme yang radikal. Kant bermaksud mengadakan penelitian yang kritis terhadap rasio murni
Baumgarten (1714-1762). Ia telah memperkenalkan kepada dunia nama “Aesthetika” (dipakai sebagai judul bukunya yang terbit tahun 1750) untuk bidang penyelidikan khusus yang menyengkut teori tentang keindahan. Term ini akhirnya dapat diterima sebagai nama dari setiap filsafat yang membahas tentang keindahan secara keseluruhan. Baumgarten mendapat julukan “Bapak Ilmu Estetika” karena jasanya ini (Anwar, 1980:18).
Kant memiliki banyak pengikut dan hampir semua sepakat bahwa buku kritik ketiganya merupakan karya terbaik dari ketiga karya kritiknya. Pengikut-pengikut Kant yang menonjol adalah Schiller, Schelling, Hegel, dan Arthur Schopenhuer.
Friedrick Heger
Konsep filsafat hukum juga berkaitan dengan person.
menurutnya, dalam uraian awalnya pada konsep roh subjektif menerangkan momen terakhir dari roh subjektif adalah kehendak bebas
agar berada dalam kebebasan objetifnya, kehendak mesti mengambil bentuk sukesifnya.
Dia memberikan makna tersendiri bagi moralitas, yang dengan itu berarti mengisi kekurangan yang ada pada Aristoteles; soal transendensi, dan kekurangan yang ada pada Kant, soal realitas norma yang ada dalam masyarakat.
ujud kebudayaan
Menurut J.J Honigmann dalam bukunya The world of Man (1959:halaman 11-12) membedakan adanya tiga wujud kebudayaan yaitu: ideas, activities, artifacts.
Koentjaraningrat berpendirian bahwa kebudayaan itu memiliki tiga wujud, yaitu:
1.Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya
2.Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
3.Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia
Melihat hal-hal di atas, Posmodern menjadi bagian dari kebudayaan akibat dari pemikiran/ide beberapa ilmuwan/antropolog/sosiolog yang kemudian terwujud dalam pola tindakan sebagai pemberontakan dari modernisme yang kemudian diterima oleh masyarakat sekarang ini. Kesudahannya terlihat dari benda-benda yang dihasilkan manusia, baik yang berwujud nyata (desain, karya seni, bangunan, dsb) maupun yang tidak berwujud nyata (seperti internet, program komputer, dsb).
Definisi Posmodernisme
Sebelum menjabarkan definisi tentang posmodernisme, sebelumnya perlu diketahui tentnga definisi modernisme terlebih dahulu.
David Michel Levin, dalam bukunya The opening of Vision: Nihilsm and the Postmodern Situation, bahwa apa yang disebut dengan periode modern,” ...dapat dijelaskan berdasarkan kenyataaan bahwa manusia menjadi pusat dan ukuran dari semua ‘ada’ (beings)” (Levin 1988:3).
Bagi Hebernas, apa yang disebut oleh Hegel sebagi ‘zaman baru’, pada hakekatnya dapat dijabarkan melalui konsep-konsep yang bersifat dinamis, seperti revolusi, kemajuan, pertumbuhan, perkembangan, krisis, dan zeitgeist (Habermas 1990:60)
Menurut Heidegger, mengontrol citra-citraan sebagai suatu proses merupakan satu proses ideologis untuk mengontrol sesuatu yang bersifat transparan—menjaga pengertian, bahwa apa yang dilihat melalui citraan adalah nyata, walau sebenarnya semu. Inilah yang kemudian disebut dengan hyperrealis.
Selamat datang di dunia Hyperealis yang merupakan bagian dari posmodern (kelanjutan dari modern)
Bentuk-bentuk Posmodernisme
Idiom estetik yang merupakan bagian dari posmodernisme adalah:
1.Pastiche
Pastiche adalah imitasi murni, tanpa pretensi apa-apa. Teks prastiche mengimitasi teks-teks masa lalu, dalam rangka mengangkat dan mengapresiasikannya.. 2.Parodi
Parodi adalah:
1)Satu bentuk dialog (menurut pengertian Bakhtin), yaitu satu teks bertemu dan berdialog dengan teks lainnya
2)tujuan dari parodi adalah untuk mengekspresikan perasaan puas, tidak senang, tidak nyaman berkenaan dengan intensitas gaya atau karya masa lalu yang dirujuk.
3.Kitsch
Kitsch adalah sampah artistik/ selera rendahan/ seni rendahan.
Contoh: patung miniatur beethoven dari bahan plastik, patung ikonik botol Coca cola, produk-produk yang dilapisi imitasi: emas, perak, dsb.
4.Camp
Satu model estetisme, yaitu satu cara melihat dunia sebagai satu fenomena estetik, dalam pengertian ‘keartifisialan’.
Contoh: penggunaan elemen-elemen art noveau dan art deco dalam bangunan-bangunan sekarang.
5.Skizofrenia
“...putusnya rantai pertanda yaitu rangkaian sintagmatis penanda yang bertautan dan membentuk satu ungkapan atau makna”
Wiwin Ria Pramesti
BalasHapus2102407080
rombel 3
Expression and Intuition "Beneditto Crose"
Croce menyebutkan bahwa ekspresi tidak dapat dipisahkan dari intuisi. Kita dapat mengidentifikasi seni melalui fakta estetik contohnya karya seni yang memiliki ciri intuitif. Namun para filsuf menentang anggapan bahwa semua intuisi adalah seni. Menurut mereka, seni merupakan sebuah intuisi yang sangat khusus. Jadi intuisi artistik berbeda dengan intuisi pada umumnya karena memiliki faktor X yang lebih. Tidak ada perbedaan spesifik sehingga tidak seorangpun mampu menunjukkan apa faktor X itu. Ada yang merumuskan seni adalah intuisinya intuisi namun anggapan ini tidak mencukupi.
Intuisi artistik sama dengan intuisi biasa. Namun fungsi artistik jangkauannya lebih luas sehingga perbedaannya tidak bersifat intensif tetapi lebih pada ekstensif. Menurut Croce, dimana batas dari ungkapan intuisi yang disebut seni sifatnya empiris dan tidak dapat didefinisikan. Bagi Croce hanya ada satu estetika, sains tentang pengetahuan intuitif atau pengetahuan ekspresif yang merupakan fakta artistik. Kejeniusan artistik atau intuitif seperti bentuk aktivitas manusia lainnya adalah selalu sadar. Jika tidak ia akan menjadi suatu mekanisme buta. Croce menentang pandangan bahwa ketidaksadaran (unconsciousness) sebagai kualitas utama dari kejeniusan artistik. Kelebihan para jenius artistic terletak pada kesadaran reflektif.
Fakta estetik bukan hanya terdiri atas isi dan juga bukan merupakan titik temu antara bentuk dan isi, yaitu impresi plus ekpresi. Dalam fakta estetik, aktivitas ekspresif tidak hanya menambah impresi namun lebih pada elaborasi dan pemberian bentuk pada impresi. Peniruan alam bukan berarti seni membuat reproduksi mekanis (membuat duplikat objek alami yang sempurna). Ilusi dan halusinasi tidak ada kaitannya dengan wilayah intuisi artistik. Jika seniman melukis pemandangan maka kita melihat suatu aktivitas spiritual dan intuisi artistik.
Intuisi merupakan pengetahuan dan seni adalah pengetahuan. Pernyataan bahwa seni tidak menunjukkan kebenaran dan bukan termasuk dunia teoritis adalah klaim yang muncul dari ketidakmampuan untuk mengerti ciri teoritis dari intuisi biasa. Menurut Croce, teori bahwa ada kemampuan indera estestis khusus juga timbul dari kegagalan untuk mendudukkan dengan benar, perbedaan karakter antara ekspresi dan impresi (bentuk dan materi). Ungkapan estetis adalah sebuah sintesis dan tidak dapat dibedakan mana yang langsung dan mana yang tidak langsung masuk ke dalam indera estetik.
Setiap ekspresi merupakan ungkapan yang utuh, melebur, menyatukan impresi – impresi menjadi kesatuan organic. Fakta ini yang selalu dicari orang ketika mereka mengatakan bajwa karya seni memiliki kesatuan dalam keragaman meskipun hal ini bertentangan dengan fakta bahwa kita membagi karya seni menjadi puisi yang terbagi menjadi kalimat, kata, dan lainnya. Pembagian merusak karya seni, karena karya seni harus mendeduksi bagian dan membangun bagian menjadi ungkapan utuh. Dengan menggabungkan impresi, manusia dapat membebaskan diri dari impresi tersebut. Fungsi seni sebagai yang membebaskan merupakan sisi lain dari karakternya sebagai aktivitas. Aktivitas berfungsi sebagai pembebas karena aktivitas menghasilkan kepasifan.
*Teori Croce sangat idealis bahwa seni adalah suatu intuisi yang utuh, pembebas dan memurnikan. Seni tidak berbeda dengan pengetahuan dan berisikan kebenaran. Hal ini membuat kedudukan seniman dengan ilmu sains menjadi setara sehingga seni tidak dapat diremehkan. Selama ini masyarakat amat merendahkan kedudukan seni. Dengan teori Croce kita dapat membalikkan sains yang kaku dan terlalu berkuasa.
Pemilihan karya sastra kumpulan cerkak Ajur!! Karya Akhir Luso No sebagai objek kajian karena beberapa factor, antara lain :
BalasHapus1.Sebagian besar cerkak memiliki kesamaan latar tempat
2.Bahasa yang digunakan pengarang lugas dan cukup mudah dipahami
Di sini penulis akan mengkaji menggunakan pendekatan pragmatik. Pendekatan ini memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Jadi penulis sebagai pembaca karya sastra bisa memberikan tanggapan bahkan kritik terhadap karya sastra tersebut. Pendekatan ini juga bertujuan memberikan manfaat bagi pembaca. Beberapa pesan moral yang terkandung dalam cerkak-cerkak Akhir Luso No ini secara tidak langsung telah memberikan suatu manfaat tersendiri bagi pembaca. Dari itu pembaca dapat menemukan beberapa ajaran kehidupan.
Nama : Ita Mayasaroh
NIM : 2102407171
Rombel : 6
Identitas Novel:
BalasHapusJudul: Jaring Kalamangga
Pengarang: Suparto Brata
Menurut pendapat saya, teori yang pantas untuk menganalisis novel "Jaring Kalamamgga" tersebut adalah teori Semiotik atau sistem tanda. Alasan mengapa dipilihnya teori tersebut karena dalam novel ini terdapat banyak kata-kata yang belum dapat saya pahami makna atau artinya. Jadi dengan menggunakan teori Semiotik diharapkan arti atau makna dari kata-kata tersebut dapat dipahami.
Saya memilih novel "Jaring Kalamangga", karena cerita dari novel ini sangat menarik dan mengandung nilai keindahan. Letak keindahan dari novel ini yaitu terletak pada isi ceritanya yaitu mengenai cerita detektif yang menghadapi suatu masalah atau teka-teki, dan akhirnya masalah atau teka-teki tersebut dapat dipecahkan dengan penyelidikan yang sangat hebat dan menarik.
NUR FITRI
2102407171
ROMBEL 6
Novel dengan judul "Emprit Abuntut Bedhug" karya dari" Suparto Brata" dapat dianalisi dengan menggunakan teori semiotk yaitu hubungan antara tanda dan penanda. Seperti misalnya dalam menyelidiki masalah ada orang penyelidik sebagai tanda dan penandanya adalah deteketif Handaka. Dengan menggunakan teori Semiotik dapat dikembangkan dengan pendekatan ekspresif. Karena yang menarik dalam novel ini adalah adalah pengarang menonjolkan dalam penokohan. Pengarang mampu menampilkan cerita itu tampak hidup dengan cara menonjolkan dalam penokohan. cerita ini merupakan kritik sosial dalam kehidupan masyarakat. Bahwa meskipun kejahatan itu disembunyikan seperti apapun pasti dapat terungkap juga. Pengarang dapat menampilkan penokohan sebagai jalan cerita bagi saya inilah yang menarik.
BalasHapusPengarang memberikan tanda penokohan dengan digunakan untuk penandanya jalan cerita. Jadi cerita itu tidak berdiri sendiri. Penokohan itu mengupas dengan detail dan rinci sehingga pembaca dapatmemahami dengan mudah.
Yunita Tri Lestari
2102407170
rombel 06
Nama : RO'UFATUL KHABIB
BalasHapusNIM : 2102407151
Rombel : 6
Periode Positivisme
Comte adalah tokoh aliran positivisme yang paling terkenal. Kamu positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis.
Pendiri filsafat positivis yang sesungguhnya adalah Henry de Saint Simon yang menjadi guru sekaligus teman diskusi Comte. Menurut Simon untuk memahami sejarah orang harus mencari hubungan sebab akibat, hukum-hukum yang menguasai proses perubahan. Mengikuti pandangan 3 tahap dari Turgot, Simon juga merumuskan 3 tahap perkembangan masyarakat yaitu tahap Teologis, (periode feodalisme), tahap metafisis (periode absolutisme dan tahap positif yang mendasari masyarakat industri.
Comte menuangkan gagasan positivisnya dalam bukunya the Course of Positivie Philosoph, yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis yang semuanya itu tewujud dalam tahap akhir perkembangan. Perkembangan ini diletakkan dalam hubungan statika dan dinamika, dimana statika yang dimaksud adalah kaitan organis antara gejala-gejala ( diinspirasi dari de Bonald), sedangkan dinamika adalah urutan gejala-gejala (diinspirasi dari filsafat sehjarah Condorcet).
Bagi Comte untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positif ini mempunyai 4 ciri, yaitu :
1. Metode ini diarahkan pada fakta-fakta
2. Metode ini diarahkan pada perbaikan terus meneurs dari syarat-syarat hidup
3. Metode ini berusaha ke arah kepastian
4. Metode ini berusaha ke arah kecermatan.
Metode positif juga mempunyai sarana-sarana bantu yaitu pengamatan, perbandingan, eksperimen dan metode historis. Tiga yang pertama itu biasa dilakukan dalam ilmu-ilmu alam, tetapi metode historis khusus berlaku bagi masyarakat yaitu untuk mengungkapkan hukum-hukum yang menguasai perkambangan gagasan-gagasan.
Hukum Tiga Tahap Auguste Comte
Comte termasuk pemikir yang digolongkan dalam Positivisme yang memegang teguh bahwa strategi pembaharuan termasuk dalam masyarakat itu dipercaya dapat dilakukan berdasarkan hukum alam. Masyarakat positivus percaya bahwa hukum-hukum alam yang mengendalikan manusia dan gejala sosial da[at digunakan sebagai dasar untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan sosial dan politik untuk menyelaraskan institusi-institusi masyarakat dengan hukum-hukum itu.
Untuk itu Comte mengajukan 3 metode penelitian empiris yang biasa juga digunakan oleh bidang-bidang fisika dan biologi, yaitu pengamatan, dimana dalam metode ini [eneliti mengadakan suatu pengamatan fakta dan mencatatnya dan tentunya tidak semua fakta dicatat, hanya yang dianggap penting saja. Metode kedua yaitu Eksperimen, metode ini bisa dilakukans ecara terlibat atau pun tidak dan metode ini memang sulit untuk dilakukan. Metode ketiga yaitu Perbandingan, tentunya metode ini memperbandingkan satu keadaan dengan keadaan yang lainnya.
NAMA : RO’UFTUL KHABIB
BalasHapusNIM : 2102407151
ROMBEL : 6
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Di dunia wanita, wanita adalah sosok yang sangat dihargai dan dihormati keberadaannya. Wanita diibaratkan sebagai perhiasan dunia, bahkan dalam agama islam terdapat istilah bahwa surga itu ditelapak kaki ibu. Kehidupan wanita sarat dengan pesan pendidikan, khususnya kodratnya sebagai seorang ibu.
Wanita Indonesia sejak dulu telah mengenal pendidikan dan berperan aktif di dalamnya. Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu memberikan contoh dalam proses pemerolehan bahasa. Adanya perbedaan status antara pria dengan wanita pada zaman dahulu serta adat yang keras terhadap keberadaan wanita, menjadikan wanita tersingkir dari pendidikan yang bersifat formal. Seorang ibu adalah wanita pertama yang mengajarkan kosa kata. Kualitas keterampilan berbahasa seseorang jelas bergantung pada kuantitas dan kualitas kosa kata yang dimilikinya.
Bagi wanita dari kalangan bangsawan dan keluarga istana lebih leluasa dalam mendapatkan pendidikanserta mereka dibekali keterampilan, wanita dari kalangan biasa sangat langka berkesempatan untuk mengenyam pandidikan (formil) kalaupun ada kesempatan hanya sebatas dasar saja. Akibatnya muncullah buku-buku yang di dalamnya mengangkat kaum wanita yang berkaitan dengan pesan pendidikan.
Salah satu karya sastra yang mengangkat tentang pesan pendidikan wanita adalah novel Dalem Sawo Kembar. Karya satra jawa yang berupa novel ini masih berstruktur bahasa jawa dengan tulisan dengan ejaan lam, bahkan bukunya untuk ukuran semaju ini sudah langka atau sudah tidak ada di pasaran. Novel cetakan tahun 1965 ini ditulis oleh sastrawan wanita bernama Rani Wida dari Yogyakarta.
Dalen Sawo Kembar banyak memuat dan mengaji piwulang etika tentang pendidikan bagi wanita, dengan ini melahirkan pesan bagi kaum wanita. Bagaimana seorang wanita harus bertindak atau bertingkah laku, novel Dalem Sawo Kembar juga memberikan ajaran pendidikan khususnya bagi kaun wanita dalam hidup di lingkungan keluarga.
Secara spesifik novel Dalem Sawo Kembar belum pernah dikaji terutama mengenai tokoh wanitanya. Dalam novel ini penulis menampilkan eran wanita sebagai peran yang dominan dalam kehidupan. Tokoh-tokoh diperankan untuk dicari pesan pendidikan apa yang ada dalam karakternya. Penokohan erat hubungannya dengan perwatakan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka muncul permasalahan sebagai berikut:
1.Bagaimana konsep-konsep pesan pendidikan wanita yang terdapat dalam novel Dalem Sawo Kembar?
2.Bagaimana relevansi pendidikan dalam novel Dalem Sawo Kembar dengan pendidikan zaman sekarang?
C.Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah:
1.Mendeskripsikan konsep-konsep pesan pendidikan dalam kehidupan sehari-hari.
2.Mendeskripsikan relevansi pesan pendidikan wanita dalam novel Dalem Sawo Kembar dengan pendidikan zaman sekarang.
D.Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan menfaat antara lain:
1.Memberikan gmbaran tentang wanita melalui pesan pendidikan yang terkandung dalam novel Dalem Sawo Kembar,
2.Memberiakan teladan kepada para pembaca
3.Memberikan manfaat pengembangan sumber daya manusia khususnya wanita dalam meningkatkan apresiasi dan untuk pembaca satra jawa pada umumnya.
4.Sebagai sarana pengetahuan, dapat mencegah tindakan para pria yang semena-mena melakukan tindak kriminal terhadap wanita.
Nama: Atika Vidyaninggar
BalasHapusNIM : 2102407149
Rombel : 06
sering kali dalam suatu perjalanan rumah tangga diwarnai dengan adanya masalah-masalah sepele yang mengakibatkan dampak atau efek yang buruk pada kelanjutannya. Hal ni juga dituangkan dalam novel yang berjudul Jaring Kalamangga yang dikarang oleh Soeparta Brata. Saya menganalisis novel ini dengan menggunakan teori atau pendekatan ekspresif. latar belakang pemilihan pendekatan ekspresif tersebut karene dengan menggunakan pendekatana ekspresif maka karya sastra tersebut dapat diketahui sebab awalnya mengapa pengarang membuat novel yang berjudul Jaring Kalamangga tersebut. pendekatan ekspresif merupakan suatu kajian prosa yang berangkat sari suatu anggapan bahwa karya sastra merupakan ungkapan jiwa pengarang yang bisa berupa ideologi, gagasan, ajakan, kritik sosial yang berlaku di masyarakat / bisa berupa apa saja yang diamati pengarang yang dapat dituangkan dalam bemtuk karyanya. pada novel in banyak sekali terdapat bentuk kritik sosial yang disampaikan pengarang terhadap bentuk pe,erintahan yang dipimpin olrehPresiden Soeharto dan asa G 30 S / PKI yang dulu pernah ada di Indonesia. dalam novel ini pengarang menuangkan gagasan kritikannya secara implisit. Kemungkinan pengarang menuangkan gagasannya dalam bentuk novel supaya amanat yang terkandung dalam novel tersebut benar-benar dapat tersampaikan pada pembaca. Segi estetis novel Jaring Kalamangga ini terletak pada kajian ceritanya yang didasarkan pada kebidupan nyata yang pernah dialami rakyat Indonesia pada jaman tersebut.
Tugas 2
BalasHapusNama : Lyna Faizatul Banat
NIM : 210 2407054
Rombel : 03
Sejarah perkembangan estetika
Sejarah filsafat barat :
sejarah filsafat barat bisa dibagi menurut pembagian berikut : filsafat klasik, abad pertengahan, modern, dan kontemporer.
Filsafat Modern (zaman Modern 1500M-1800M)
-Aliran Rasionalisme
-Aliran Empierisme
-Aliran kritisisme
1. Pandangan aristoteles mengenai Mimesis
Aristoteles adalah seorang pelorpor penentangan pandangan plato tentang Mimesis yang berrati juga menentang pandangan rendah plato terhadap seni. apabila Plato beranggapan bahwa seni hanya merendahkan manusia karena menghimbau nafsu dan emosi. Aristoteles justru menganggap seni sebagai sesuatu tang bisa meninggikan akal budi.
2. Pandangan Plato Mengenai Mimesis
pandangan Plato mengenai Mimesis sangat dipengaruhi oleh pandangan konsep idea-idea yang kemudian mempengaruhi bagaimana pandanagnnya mengenai seni. Plato menganggap Idea yang dimiliki manusia terhadap suatu hal merupakan sesuatu yang sempurna dan tidak dapat berubah. Idea merupakan Ideal yang terdapat pada manusia.
3. Relativisme
adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa kebenaran itu ada akan tetapi kebenaran itu tidak mmepunyai sifat mutlak
4. Subjektivisme
aliran yang membatasi pengetahuan pada hal-hal (onjek) yang dapat diketahui dan dirasa. kecenderungan dan kedudukan kemampuan pada realitas eksternal sebagai sesuatu yang bisa ditinjau dari pemikiran yang subjektif.
Tugas Bab 7
BalasHapusNama : Lyna Faizatul Banat
NIM : 2102407054
Rombel : 03
Zahroh Mufidah
Kleyengan Layang Wingit
layang peteng sing dak temu
ndhodhog napas ambisisku
pitakon sujana jogedan sora
kaya ngene ta dalane ngindang mala?
methik prakara?
ngejur balung sungsum adiluhung?!
sakala ganda bacin nyandhet laku
swara santak dadi serak
drijiku durung pomah tulisan kamonceran
sapa sing kena digugu, apa sing bisa diluru
golek cagak pisambat
durung, durung bisa anggrahita
awit wangsulane isih sepa'
o . . . wektu laku manggilingan
genya sira melu gempung klimpungan
untapke janma medhot perban rodhamu
janma kang kapang bale padhang
padhang esuk, padhang rina, padhang rembulan
njur tinemu aruming layang
Surabaya, Agustus 2002
Pnjebar Semangat, 4 Desember 2002
Halaman 50
Analisis :
Puisi yang berjudul Kleyenge Wayang Wingit, yang ditulis oleh Zahroh Mufidah secara estetis terlihat cukup bernilai estetis karena masih menggunakan bahasa kias yang diungkapkan tidak secara lugas sehingga lebih membuat pembaca menilai geguritan dengan banyak versi yang kreatif. banyak kata-kata terahir dalam baris yang mempunyai vokal yang sama sehingga akan menimbulkan keindahan ketika dibaca. pengarang menggunakan kata-kata yang divisualisasikan dalam bentuk benda-benda yang biasa disimbolkan dengan keindahan seperti kata rembulan.
Tugas 1
BalasHapusNama : Septi Anggraeni
NIM : 2102407053
Rombel : 03
Keindahan adalah sesuatu yang terlihat menyenangkan ketika dipandang dan dirasakan.
asalamualaikum
BalasHapusNama : Desi Dwi Purnamasari
BalasHapusNIM : 2102407117
Rombel : 4
Sejarah Perkembangan Estetika
Semiotik Sastra
Semiotik (kadang-kadang juga dipakai istilah semiologi) ialah ilmu yang secara sistematik mempelajari tanda-tanda dan lambang-lambang (sèmeion, bahasa Yunani= tanda), sistem-sistem lambang dan proses-proses perlambangan. Dengan demikian ilmu bahasa pun dapat dinamakan ilmu semiotik. Ada juga bahasa-bahasa yang diciptakan manusia sendiri, jadi yang tidak berkembang dengan sendirinya, dan yang dapat dinamakan sistem lambang, seperti misalnya tanda-tanda lalu lintas atau sistem unsur dan kaidah yang berlaku dalam ilmu logika. Terdapat juga sistem-sistem lambang sekunder yang berfungsi di dalam rangka sebuah sistem primer, seperti misalnya di dalam bahasa-bahasa alamiah. Di dalam rangka sebuah sistem lambang kita mengartikan gejala-gejala tertentu (gerak-gerik, kiasan-kiasan, kalimat, dan seterusnya) berdasarkan sebuah kaidah atau sejumlah kaidah. Kaidah-kaidah itu merupakan sebuah kode, yaitu alasan atau dasar mengapa kita mengartikan suatu gejala begini atau begitu, sehingga gejala itu menjadi suatu tanda.
Menurut pandangan ini sastra merupakan sebuah sistem sekunder; semiotik sastra mempelajari bahasa alami yang dipakai dalam sastra, misalnya bahsa Indonesia atau Inggris, tetapi juga sistem-sitem tanda lainnya, untuk menemukan kode-kodenya. Berikut semiotik sastra yang diilhami Peirce dan Lotman.
1. Semiotok Sastra ala Peirce
Yang merancang secara sitematik sebuah teori tentang tanda ialah filsuf Amerika Charles Peirce (1839-1914). Kita saling mengadakan komunikasi lewat tanda-tanda. Tanda-tanda bahasa hanya merupakan salah satu kelompok tanda yang kita pergunakan. Kata-kata, tetapi juga kalimat-kalimat dan teks-teks termasuk tanda-tanda bahasa. Menurut Peirce ada tiga faktor yang menentukan adanya sebuah tanda, yaitu tanda itu sediri, hal yang ditandai dan sebuah tanda baru yang terjadi dalam batin si penerima. Tanda itu merupakan suatu gejala yang dapat diserap atau pun suatu gejala yang lewat penafsiran dapat diserap. Antara tanda pertama dan apa yang ditandai (yang diacu) terdapat suatu hubungan representasi (to represent=menghadirkan, mewakili).
2. Semiotok ala Lotman
Menurut tokoh semiotik sastra Rusia, Joeri Lotman, maka perbedaan antara bahasa sehari-hari dan bahasa sastra disebabkan karena fungsi ikonisitas dalam sastra. Tahap-tahap formal di dalam teks menggambarkan isinya. Untuk sebagian semiotik Soviet berakar dalam formalisme, tetapi ada pengaruh juga dari mahzab Praha dan bahkan dari strukturalisme Prancis.
Pandangan Lotman yaitu bahwa seni adalah salah satu cara manusia menjalin hubungan dengan dunia sekitarnya. Seni merupakan suatu sistem tanda-tanda yang menerima informasi, menyimpannya lalu mengalihkannya. Sebuah karya seni merupakan sebuah “teks”. Ini berlaku bagi setiap bentuk kesenian. Setiap cabang kesenian dapat kita pandang sebagai suatu bahasa. Karya-karya sastra merupakan “teks-teks” dalam bahasa alami. Sekelompok teks, seperti misalnya komedia Rusia pada abad ke-18 atau puisi Inggris yang metafisik dari abad ke-17, dapat dinamakan sebuah teks.
Sumber: Luxemburg, Jan van, dkk.1992.Pengantar Ilmu Sastra (Terjemahan Dick Hartoko).Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama
Nama : Desi Dwi Purnamasari
BalasHapusNIM : 2102407117
Rombel : 5
Sejarah Perkembangan Estetika
Semiotik Sastra
Semiotik (kadang-kadang juga dipakai istilah semiologi) ialah ilmu yang secara sistematik mempelajari tanda-tanda dan lambang-lambang (sèmeion, bahasa Yunani= tanda), sistem-sistem lambang dan proses-proses perlambangan. Dengan demikian ilmu bahasa pun dapat dinamakan ilmu semiotik. Ada juga bahasa-bahasa yang diciptakan manusia sendiri, jadi yang tidak berkembang dengan sendirinya, dan yang dapat dinamakan sistem lambang, seperti misalnya tanda-tanda lalu lintas atau sistem unsur dan kaidah yang berlaku dalam ilmu logika. Terdapat juga sistem-sistem lambang sekunder yang berfungsi di dalam rangka sebuah sistem primer, seperti misalnya di dalam bahasa-bahasa alamiah. Di dalam rangka sebuah sistem lambang kita mengartikan gejala-gejala tertentu (gerak-gerik, kiasan-kiasan, kalimat, dan seterusnya) berdasarkan sebuah kaidah atau sejumlah kaidah. Kaidah-kaidah itu merupakan sebuah kode, yaitu alasan atau dasar mengapa kita mengartikan suatu gejala begini atau begitu, sehingga gejala itu menjadi suatu tanda.
Menurut pandangan ini sastra merupakan sebuah sistem sekunder; semiotik sastra mempelajari bahasa alami yang dipakai dalam sastra, misalnya bahsa Indonesia atau Inggris, tetapi juga sistem-sitem tanda lainnya, untuk menemukan kode-kodenya. Berikut semiotik sastra yang diilhami Peirce dan Lotman.
1. Semiotok Sastra ala Peirce
Yang merancang secara sitematik sebuah teori tentang tanda ialah filsuf Amerika Charles Peirce (1839-1914). Kita saling mengadakan komunikasi lewat tanda-tanda. Tanda-tanda bahasa hanya merupakan salah satu kelompok tanda yang kita pergunakan. Kata-kata, tetapi juga kalimat-kalimat dan teks-teks termasuk tanda-tanda bahasa. Menurut Peirce ada tiga faktor yang menentukan adanya sebuah tanda, yaitu tanda itu sediri, hal yang ditandai dan sebuah tanda baru yang terjadi dalam batin si penerima. Tanda itu merupakan suatu gejala yang dapat diserap atau pun suatu gejala yang lewat penafsiran dapat diserap. Antara tanda pertama dan apa yang ditandai (yang diacu) terdapat suatu hubungan representasi (to represent=menghadirkan, mewakili).
2. Semiotok ala Lotman
Menurut tokoh semiotik sastra Rusia, Joeri Lotman, maka perbedaan antara bahasa sehari-hari dan bahasa sastra disebabkan karena fungsi ikonisitas dalam sastra. Tahap-tahap formal di dalam teks menggambarkan isinya. Untuk sebagian semiotik Soviet berakar dalam formalisme, tetapi ada pengaruh juga dari mahzab Praha dan bahkan dari strukturalisme Prancis.
Pandangan Lotman yaitu bahwa seni adalah salah satu cara manusia menjalin hubungan dengan dunia sekitarnya. Seni merupakan suatu sistem tanda-tanda yang menerima informasi, menyimpannya lalu mengalihkannya. Sebuah karya seni merupakan sebuah “teks”. Ini berlaku bagi setiap bentuk kesenian. Setiap cabang kesenian dapat kita pandang sebagai suatu bahasa. Karya-karya sastra merupakan “teks-teks” dalam bahasa alami. Sekelompok teks, seperti misalnya komedia Rusia pada abad ke-18 atau puisi Inggris yang metafisik dari abad ke-17, dapat dinamakan sebuah teks.
Sumber: Luxemburg, Jan van, dkk.1992.Pengantar Ilmu Sastra (Terjemahan Dick Hartoko).Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama
aaaaaaa
BalasHapusNama : Mohammad Wahyudi
BalasHapusNim : 2102407191
Pandangan Plato mengenai Estetika
Estetika di duni barat sama tuanya dengan filsafat. Khususnya dalam filsafat Plato masalah estetika memainkan peranan yang sangat penting. Keindahan yang mutlak menurut Plato hanya terdapat tingkat dunia ide-ide, dan adanya dunia ide yang mengatasi kenyataan dunia illahi yang tidak langsung terjangkau oleh manusia. Tetapi yang paling banter dapat diketati lewat pemikiran.
Para filsuflah yang pertama-tama dapat mendekati dunia Ide dengan harmoni yang ideal. Seniman tidak langsung dapat menjangkau dunia yang tertinggi itu. Dia terikat pada dunia nyata dari segi seni “ Is a thing of the most inferior value, a shadow “ ( suatu yang sangat rendah nilainya, bayangan), mimesis dalam arti peniruan.
Plato menganggap seni secara tidak langsung berhubungan dengan hakikat benda-benda. “True art....strives to transcend the material world: in its poor images it tries to evocate something of that higher realm of being which also glimmers through phenomenal reality.... in true art likeness does not refer to commonplace reality but to ideal Beauty” (Verdenius 1949:18-19: seni sejati berusaha mengatasi dunia kenyataan. Dalam baying-bayang yang hina diusahakan menyarankan sesuatu dari duniayang lebih tinggi, yang juga terbayang dalam kenyataan fenomena... dalam seni sejati kemiripan tidak mengacu pada kenyataan sehari-hari, melainkan keindahan ideal.
(Teeuw,A,1988 :347-348)
Mohammad Wahyudi
BalasHapus2102407191
Rombel 07
Antologi cerkak Blangkon sebuah ekspresi jiwa pengarang
Dunia karya sastra di Indonesia mengalami perkembangan yang begitu pesatnya. Terlihat dari banyaknya karya sastra yang beredar dalaam bentuk buku, majalah, media massa, maupun media elektronik. Hal itu memacu penulis novel maupun cerkak (crita cekak) dalam mengembangkan karya satra dengan bahasa Jawa sebagai media yang digunakan. Setelah sepeninggal dari R.Ronggowarsito karya sastra (prosa) Jawa mengalami fase yang baru menjadi karya sastra populer.
Sempat dalam periode tertentu karya sastra Jawa mengalami sebuah fase stagnan atau bahkan mengalami kemunduran. Tidak ada perkembangan dalam bentuk kualitas maupun kuantitas. Pernah juga dalam fase yang dinamakan Pustaka. Pada saat itu karya sastra Jawa hanya berada pada posisi berada dalam sebuah majalah saja, seperti Panjebar Semangat. Jaya Baya, Mekar Sari dan lain-lain.
Hal inilah yang membuat keprihatinan dalam perkembangan novel, roman maupun cerkak Jawa. Atas dasar itulah banyak individu, penullis maupun paguyuban yang mempunyai tekad yang kuat agar keberadaannya tetap dapat lestari. Karena suatu hal tetap ada jika senantiasa ada yang tetap melestarikan dan menjaganya.
Terlepas dari hal tadi, karya sasta juga memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Banyak karya sastra yang menginsipirasi kehidupan atau sebaliknya karya sastra itu timbul karena kondisi yang ada. Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalm mengkaji sebuah karya sastra yang terdiri dari unsur-unsur yang membangun karya tadi menjadi kesatuan yang utuh. Pendekatan yang dapat digunakan untuk mengkaji diantaranya pendekatan objektif, pendekatan mimetik, pendekatan ekspresif dan pendekatan pragmatik. Pendekatan-pendekatan itu digunakan sesuai dengan kecenderungan unsur-unsur yang dimilki dalam karya sastra itu.
Kerja keras para pencinta karya sastra Jawa tidaklah sia-sia. Banyak kita jumpai novel, roman, cerkak disekeliling kita, Salah satunya adalah buku dengan judul Blangkon, berisi kumpulan cerkak. Sebagai penikmat karya sastra, kita bisa memilah dan memilih karya mana yang cocok untuk pengembangan potensi yang ada. Antologi cerkak ini berisi 17 cerkak karya dari Pengarang-pengarang Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB). Pengarang itu diantaranya J.F.X Hoery, Djajus Pete. Yes Ismie Suryaatmaja dan lain-lain.
Perbedaan ekspresi pengarang cukup terlihat dalam Blangkon. Setiap pengarang mempunyai gaya tersendiri daalm melihat objek karya sastra yang dibuat. Padahal mereka berasal dari daerah yang sama yaitu daerah Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban. Dengan background pekerjaan inti yang berbeda juga ikut berpengaruh dalam cerkak yang dibuatnya. Kiranya antologi cerkak ini dapat dikaji dengan semua pendekatan. Namun lebih cenderung dalam ekspresi yang berbeda yang ditunjukan pengarang terhadap objek karyanya. Jadi lebih cocok dikaji dengan pendekatan ekspresif.
Banyak hal yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam hasil karya sastranya. Ungkapan atau luapan jiwa pengarang ini dapat berupa idiologi, gagasan, ajakan, kritik social yang berlaku di masyarakat atau bisa berupa apa saja yang diamati pengarang atau pengalaman batin pengarang yang dapat dituangkan dalam bentuk karya sastra. Banyak kontribusi pengarang yang dituangkan lewat karyanya. Peran diluar ilmu sastra sangat besar pengaruhnya sebab jiwa dari pengarang ikut berbicara, sehingga dengan pendekatan ekspresif ini analisis psikologi sastra yaitu dengan melihatkan latar belakang kehidupan pengarang.
Nama : Rizka Muntashofillail
BalasHapusNIM : 2102407092
Rombel : 4
Dening: Sudi Yatmana
Iwak lan Banyu
bareng wis ketatalan lagi padha kedhungsangan
bareng kebukten kedaden banjur gelem open-open
nyegah wegah preventif ora aktif
jare ”prevention is better than cure’
tibake pupur sawise benjut
benjut lendhut udud lan kang semrawut kebacut
negara kuwi apa ana ta
sejatine Negara kuwi gegayuhan, kanyatan, apa wewayangan
lamun gegayuhan geneya ora ginayuh kanthi iguh kanthi iguh wutuh pengkuh
yen kanyatan geneya ora diakoni kakuranganan lan kaluputane
kapara ditutupi nganggo pawadan pranatan jempalikan
negara kuwi duweke sapa
panguwasa wong manca apa wong murka
tumraping manungsa apa bedane warga bangsa karo sesama
kepriye rasane sega lan agama
gemah ripah loh jinawi
tata tentrem karta raharja
kuwi panganan apa
“salam sejahtera bagi kita semua”
kuwi abang abang lambe mung melu melu bae apa ngece
wose kahanane sangsaya nganyelake
(maju tatu mundur ajur mandheg ambleg miring nggoling ndhoyong amblong)
akeh wong pinter
pinter ngoyak oyak ngubak ubak
nanging ora bisa nyandhak
sing digugu wis ora lugu
sing ditiru wis padha saru
mula kerep bae saben saben muncul mangsalahe
hora kena iwake malah butheg banyune
ANALISIS
Geguritan tersebut menggetarkan rasa semangat kebangsaan. Kita sebagai pembaca dapat merasakan bahwa puisi tersebut sangat menyentuh terutama bagi para pejabat tinggi negara. Geguritan tersebut seolah menyindir atau mengkritik para pejabat. Mereka sangat berperan dalam kehidupan dinegara ini. Negara akan hancur atau bangkit tergantung yang mengaturnya. Isi geguritan tersebut berisi tentang pengusaha yang tidak becus dalam mengolah negaranya. Peran pejabat dalam membangkitkan negaranya tidak berhasil. Mereka tidak memberikan teladan yang baik bagi rakyatnya melainkan menjerumuskan dan berperilaku tidak sesuai layaknya seorang pejabat. Mereka tidak pantas ditiru. Apabila ditiru negara kita akan hancur.
Unsur-unsur yang dapat memberi keindahan geguritan tersebut terutama dari segi bahasa dan pemilihan kata. Bahasa yang digunakan dalam geguritan ini mudah dipahami karena tidak menggunakan kata-kata yang sulit.
Dalam geguritan ini ada bebarapa pemilihan kata yang dapat memperindah geguritan tersebut. Pada baris ketiga ”nyegah wegah preventif ora aktif” setelah kita membacanya kita langsung dapar menemukan keindahan kata tersebut yaitu pada kata ”preventif” dan ”aktif”. Suku kata terakhir yang sama dapat menimbulkan keindahan geguritan tersebut. Pembaca juga dapat menikmatinya karena pembaca dapat merasakan keenakan dalam membacanya. Banyak baris-baris yang berpola seperti itu. Seperti pada baris ke-6, ke-8, ke-9 dan lain-lain. Sebagian kata dari bahasa inggris muncul dalam geguritan tersebut. Seperti pada baris ke-4 ”jare prevention is better than cure” Kombinasi bahasa jawa dengan bahasa inggris yang selaras dapat memberikan kesan keindahan dan menarik pembaca untuk membacanya berulang-ulang.
Nama : Rizka Fadhila
BalasHapusNim : 2102407049
Rombel : 03
Mata Kuliah : Estetika
Jam Kuliah : Rabu, 11.00 WIB
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang Masalah
Cerpen sebagai bagian dari karya sastra merupakan institusi sosial yang memakai medium bahasa. Hal ini dikarenakan pengarang selaku pencipta karya sastra berasal dari anggota masyarakat sehingga sedikit banyak masyarakat turut serta berperan memberikan inspirasi dalam keberadaan sebuah karya sastra. Hauzen dalam Nyoman Kutha Ratna berpendapat (2004:336) bahwa karya sastra lebih jelas mewakili ciri-ciri zamannya. Oleh sebab itu, karya sastra tidak pernah terlepas dari sosial kemasyarakatan sebagai zaman yang diwakilinya. Meskipun demikian, karya sastra bukan berarti sebagai peniruan dari masyarakat semata. Seperti pendapat Rene Wellek dan Austin Warren (1995:109) bahwa karya sastra merupakan lembaga estetik tidak berdasar lembaga sosial, bahkan bukan bagian dari lembaga sosial. Lembaga estetik adalah lembaga sosial dari satu tipe tertentu dan sangat erat berkaitan dengan tipe-tipe lainnya. Oleh karena itu, karya sastra bukan meniru tetapi juga mencerminkan dan mengekspresikan hidup.
Menilik pada hakikatnya, karya sastra sebagai sumber estetika dan etika tidak dapat digunakan secara langsung melainkan hanya dapat menyarankan sehingga karya sastra merupakan cerminan dari, oleh, dan untuk masyarakat.
Peneliti kemudian mengambil antologi cerkak Gumregah (selanjutnya disingkat GM) sebagai obyek kajian sosiologi. Antologi cerkak GM ini diterbitkan oleh penerbit Pemerintah Propinsi Jawa Tengah dan Yayasan Studi Bahasa Jawa Kanthil Semarang tahun 2003.
Ada beberapa alasan mengapa peneliti mengambil Antologi cerkak GM sebagai obyek kajian sosiologi. Pertama, antologi cerkak GM merupakan antologi yang diterbitkan pada tahun 2003 sehingga masih menarik untuk dikaji lebih dalam. Karena sifatnya yang masih baru, antologi cerkak GM tentulah belum banyak dikaji dalam penelitian.
Kedua, pengarang sebagai bagian dari anggota masyarakat sedikit banyak terinspirasi menghasilkan karya sastra dari masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya pengkajian karya sastra antologi cerkak GM dari sudut sosiologis agar dapat dikupas lebih dalam isi dan tujuan karya sastra berkaitan dengan masalah sosial.
Ketiga, sebagaimana dikemukakan Nyoman Kutha Ratna (2004:60) pendekatan sosiologis, khususnya untuk sastra indonesia, baik lama maupun modern menjanjikan lahan penelitian yang tidak akan pernah kering. Setiap hasil karya, baik dalam skala angkatan maupun individual, meneliti aspek-aspek sosial tertentu yang dapat dibicarakan melalui model-model pemahaman sosial. Dari pendapat tersebut diketahui bahwa sosiologis merupakan pendekatan yang tidak pernah lepas dari karya sastra sebab pendekatan sosiologis dapat digunakan untuk membantu memahami gender, feminis, status peranan, wacana sosial, dan memahami kehidupan manusia dalam masyarakat melalui sebuah karya sastra.
Melihat kenyataan-kenyataan di atas, antologi cerkak GM perlu dikaji terutama dari sosial kemasyarakatan dan peniruannya dalam kehidupan nyata. Kajian sosial kemasyarakatan dan peniruannya dari kehidupan nyata akan memperkaya pemahaman antologi cerkak GM dari sudut sosiologis. Kajian ini menggunakan teori sosiologis-mimetik karena karya sastra lahir dari refleksi yang ada dalam kehidupan masyarakat nyata (mimetik). Kenyataan tersebut merupakan sesuatu yang telah ditafsirkan pengarang melalui karya sastra dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, pendekatan sosiologis bertumpu pada masyarakat sedangkan mimesis bertumpu pada karya sastra. Penggunaan teori sosiologis-mimetik untuk membedah karya sastra antologi cerkak GM diharapkan mampu mengungkap sosial kemasyarakatan dan refleksinya dalam kehidupan nyata. Terungkapnya sosial kemasyarakatan dan refleksinya dalam kehidupan nyata ini kemudian dapat membantu memberi pemahaman terhadap masyarakat dengan harapan terjadi perubahan perilaku setelah membaca karya tersebut dalam kerangka pemahaman serta pemaknaan.
Nama : Rizka Fadhila
BalasHapusNim : 2102407049
Rombel : 03
Mata Kuliah : Estetika
Jam Kuliah : Rabu, 11.00 WIB
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang Masalah
Cerpen sebagai bagian dari karya sastra merupakan institusi sosial yang memakai medium bahasa. Hal ini dikarenakan pengarang selaku pencipta karya sastra berasal dari anggota masyarakat sehingga sedikit banyak masyarakat turut serta berperan memberikan inspirasi dalam keberadaan sebuah karya sastra. Hauzen dalam Nyoman Kutha Ratna berpendapat (2004:336) bahwa karya sastra lebih jelas mewakili ciri-ciri zamannya. Oleh sebab itu, karya sastra tidak pernah terlepas dari sosial kemasyarakatan sebagai zaman yang diwakilinya. Meskipun demikian, karya sastra bukan berarti sebagai peniruan dari masyarakat semata. Seperti pendapat Rene Wellek dan Austin Warren (1995:109) bahwa karya sastra merupakan lembaga estetik tidak berdasar lembaga sosial, bahkan bukan bagian dari lembaga sosial. Lembaga estetik adalah lembaga sosial dari satu tipe tertentu dan sangat erat berkaitan dengan tipe-tipe lainnya. Oleh karena itu, karya sastra bukan meniru tetapi juga mencerminkan dan mengekspresikan hidup.
Menilik pada hakikatnya, karya sastra sebagai sumber estetika dan etika tidak dapat digunakan secara langsung melainkan hanya dapat menyarankan sehingga karya sastra merupakan cerminan dari, oleh, dan untuk masyarakat.
Peneliti kemudian mengambil antologi cerkak Gumregah (selanjutnya disingkat GM) sebagai obyek kajian sosiologi. Antologi cerkak GM ini diterbitkan oleh penerbit Pemerintah Propinsi Jawa Tengah dan Yayasan Studi Bahasa Jawa Kanthil Semarang tahun 2003.
Ada beberapa alasan mengapa peneliti mengambil Antologi cerkak GM sebagai obyek kajian sosiologi. Pertama, antologi cerkak GM merupakan antologi yang diterbitkan pada tahun 2003 sehingga masih menarik untuk dikaji lebih dalam. Karena sifatnya yang masih baru, antologi cerkak GM tentulah belum banyak dikaji dalam penelitian.
Kedua, pengarang sebagai bagian dari anggota masyarakat sedikit banyak terinspirasi menghasilkan karya sastra dari masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya pengkajian karya sastra antologi cerkak GM dari sudut sosiologis agar dapat dikupas lebih dalam isi dan tujuan karya sastra berkaitan dengan masalah sosial.
Ketiga, sebagaimana dikemukakan Nyoman Kutha Ratna (2004:60) pendekatan sosiologis, khususnya untuk sastra indonesia, baik lama maupun modern menjanjikan lahan penelitian yang tidak akan pernah kering. Setiap hasil karya, baik dalam skala angkatan maupun individual, meneliti aspek-aspek sosial tertentu yang dapat dibicarakan melalui model-model pemahaman sosial. Dari pendapat tersebut diketahui bahwa sosiologis merupakan pendekatan yang tidak pernah lepas dari karya sastra sebab pendekatan sosiologis dapat digunakan untuk membantu memahami gender, feminis, status peranan, wacana sosial, dan memahami kehidupan manusia dalam masyarakat melalui sebuah karya sastra.
Melihat kenyataan-kenyataan di atas, antologi cerkak GM perlu dikaji terutama dari sosial kemasyarakatan dan peniruannya dalam kehidupan nyata. Kajian sosial kemasyarakatan dan peniruannya dari kehidupan nyata akan memperkaya pemahaman antologi cerkak GM dari sudut sosiologis. Kajian ini menggunakan teori sosiologis-mimetik karena karya sastra lahir dari refleksi yang ada dalam kehidupan masyarakat nyata (mimetik). Kenyataan tersebut merupakan sesuatu yang telah ditafsirkan pengarang melalui karya sastra dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, pendekatan sosiologis bertumpu pada masyarakat sedangkan mimesis bertumpu pada karya sastra. Penggunaan teori sosiologis-mimetik untuk membedah karya sastra antologi cerkak GM diharapkan mampu mengungkap sosial kemasyarakatan dan refleksinya dalam kehidupan nyata. Terungkapnya sosial kemasyarakatan dan refleksinya dalam kehidupan nyata ini kemudian dapat membantu memberi pemahaman terhadap masyarakat dengan harapan terjadi perubahan perilaku setelah membaca karya tersebut dalam kerangka pemahaman serta pemaknaan.
Nama : Desi Dwi Purnamasari
BalasHapusNIM : 2102407117
Rombel : 05
Analisis tembang “Dawet Ayu”
1. Instrumen Musik
Pada awal lagu, bonang sebagai grambyangan mengawali semua instrument yang ada. Setelah itu, semua instrumen ditabuh dengan jelas dalam tempo sedang diikuti dengan tepukan tangan. Ketika vocal sudah terdengar, semua instrument terdengar lirih, seperti; kendang, kenong, dan bonang ditabuh dengan pukulan lirih. Alunan suara siter membuat suasana yang ingin disampaikan tercapai. Setelah lagu dinyanyikan, semua instrument kembali terdengar jelas. Di akhir lagu, baik semua instrument maupun lagu dimainkan semakin pelan hingga berhenti.
2. Lirik
Lirik pada lagu Dawet Ayu ini terkesan sangat puitis. Penyanyi menggambarkan keadaan pasar yang ramai, yang di sana terdapat banyak lelaki yang mengagumi kecantikan seorang penjual dawet. Penyayi juga sempat menyandra bagaimana diri seorang penjual dawet itu. Seperti senyum, tingkah laku, dan sebagainya yang diungkapkan melalui bahasa kiasan sehingga terkesan sangat merayu dan puitis.
Lirik lagu dinyanyikan empat kali. Hal ini menambah kejelasan akan makna yang terkandung dalam lagu.
3. Vokal
Lagu dinyanyikam oleh para sinden dengan jelas. Di belakangnya muncul suara lelaki yang semakin menambah makna daripada lagu. Lelaki sebagai perayu seorang penjual dawet Jelas terlihat di sini yang ingin ditekankan adalah keinginan yang kuat daripada kaum lelaki untuk melihat kecantikan seorang wanita. Suara mengalun merdu. Perpaduan yang sempurna, seimbang, dan saling mendukung satu sama lain.
4. Instrumen yang terdapat dalam tembang “Dawet Ayu”, antara lain sebagai berikut.
1. Kendang
Sepanjang lagu kendang-lah instrument yang paling dominan ditabuh. Tempo disesuaikan dengan kebutuhan untuk membangun suasana yang diinginkan. Kadang cepat, kadang pelan, kadang lambat, dan kadang agak cepat.
2. Bonang.
Meliputi bonang barung dan bonang penerus. Bonang barung menjadi awal/grambyangan daripada lagu. Ketika lirik tidak dinyanyikan, kedua instrument ini terdengar jelas. Bonang ditabuh dengan pola tertentu. Pola gembyang pada saat intro, dan pola imbal pada saat masuk ke lagu. Suara yang dihasilkan antara bonang barung dan bonang penerus terdengar seirama.
3. Siter
Selain kendhang, siter juga terdengar dominan, dibunyikan sepanjang lagu, membuat suasana gayeng, dan tentram, juga membuat kesan romantis.
4. Rebab.
Rebab dibunyikan sewaktu-waktu untuk membantu menghasilkan kesan romantis. Rebab dibunyikan seiring dengan siter.
5. Slenthem.
Pada saat lagu, suara slenthem baru akan terdengar keras. Sedangkan pada saat intro, suara slenthem kalah dengan suara instrument yang lain. Dipukul dengan pola teratur dan pelan.
6. Saron dan Demung
Saron dan demung dipukul pelan saat lagu, dan keras pada saat intro.sesuai dengan kunci. Hal ini dilakukan supaya pada saat lagu suara vocal akan terdengar keras dan untuk menciptakan kesan estetis.
7. Kenong.
Kenong dipukul keras. Dengan pola dipukul pada hitungan ke-2, ke-4, dan ke-6. Hal ini sebagai penyelaras agar suara yang dihasilkan menjadi seimbang dan indah.
8. Kempul Gong.
Kempul ditabuh sepanjang lagu dengan pola pukul pada hitungan ke-3, ke-5, dan ke-7 dengan variasi tertentu. Sedangkan gong suwukan dipukul pada awal atau buka dan hitungan ke-8. Gong gedhe Dipukul pada awal lagu dan ahkhir lagu.
Nama : Rizka Muntashofillail
BalasHapusNIM : 2102407092
Ronbel: 4
Tugas 7. Analisis geguritan
Manuk-manuk Emprit ing Pucuk Pring
manuk emprit kang nyusuh ing pucuk pring
cedhak kali ngarep omahku
kerep genteyongan digawe dolanan angin
yen banjir teka pucuk pring kasempyok-sempyok banyu
nanging angkluh wae ora tau
yen anak-anake pating jerit
ana pitutur saka emboke emprit
--ya papan kang kaya mengkene iki kang isih nyisa
lan rada aman
jalaran anan-anak menungsa ora bisa ganggu
kowe kabeh isih begja
jalaran isih nduweni kamardikan
senajan ora sepiroa
kamangka liyane mung kari crita
malah akeh kang ora percaya yen nyata tau ana
Dening: Sunardi KS
Penjebar Semangat. 20 Januari 2007
Edisi: 3
Nilai estesis dalam geguritan ini yang paling menonjol adalah dari segi makna. Saya tertarik dengan geguritan tersebut karena maknanya sangat mendalam yaitu menceritakan kehidupan seseorang yang selalu bersyukur atas apa yang sudah ia dapatkan. Dalam geguritan ini seseorang yang diibaratkan sebagai burung emprit. Seekor burung emprit yang selalu semangat dan tidak putus asa ketika ia mendapatkan kesusahan. Dalam situasi yang seperti itu ia masih saja memberi semangat kepada anak-anaknya agar sadar akan bersyukur kepada Tuhan karena mereka masih beruntung dibanding teman-teman yang lain. Semoga pembaca dapat merenungkan kehidupan manuk emprit tersebut.
Selain itu bahasanya juga mudah dipahami jadi nilai estesis geguritan tersebut juga mudah untuk dimengerti pembaca. Dalam geguritan ini baris satu dengan baris yang lainnya ada yang diakhiri bunyi yang sama sehingga dapat memperindah pembacaan geguritan tersebut. Misalnya:
1. yen banjir teka pucuk pring kasempyok-sempyok banyu
nanging angkluh wae ora tau
Kedua baris tersebut mempunyai persamaan bunyi pada huruf “u”
2. yen anak-anake pating jerit
ana pitutur saka emboke emprit
Kedua baris tersebut mempunyai persamaan bunyi pada kata “it”
3. senajan ora sepiroa
kamangka liyane mung kari crita
malah akeh kang ora percaya yen nyata tau ana
Ketiga baris tersebut mempunyai persamaan bunyi pada huruf “a”
Sotya Swastika Maharani (2102407120) Rombel 5
BalasHapusPengertian Estetika
Secara historis, estetika merupakan bagian filsafat. Pada perkembangan awal ini estetika disebut dengan istilah keindahan, merupakan bagian filsafat metafisika. Secara etimologis(Shipley,1957:21) estetika berasal dari bahasa Yunani, yaitu: aistheta, yang juga diturunkan dari aisthe. Pada umumnya aisthe diposisikan dengan noeta, dari akar kata noein, nous, yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan pikiran. Dalam pengertian yang lebih luas berarti kepekaan untuk menanggapi suatu objek, kemampuan pencerapan indra, sebagai sensitivitas. Dalam bahasa Inggris menjadi aesthetics atau esthetics(studi tentang keindahan). Orang yang sedang menikmati keindahan disebut aesthete, sedangkan ahli keindahan disebut aesthetecian. Dalam bahasa Indonesia menjadi estetikus, estetis, dan estetika,yang masing-masing berarti orang yang ahli dalam bidang keindahan, bersifat indah, dan ilmu atau filsafat tentang keindahan, atau keindahan itu sendiri.
Sotya Swastika Maharani (2102407120) Rombel 5
BalasHapusSejarah Perkembangan Estetika
Periode pertama disebut dogmatik karena secara apriori mereka percaya terhadap kemampuan rasio tanpa mengadakan pemahaman mendalam terlebih dahulu. Sokrates adalah pelopor teori estetika, meskipun pada masanya istilah estetika belum ditemukan. Istilah yang digunakan adalah keindahan sendiri itu sebagaimana ditunjukkan melalui berbagai dialog antara Sokrates dan Hippias (Wadjiz Anwar,8-9). Sebagai peletak dasar teori keindahan melalui berbagai perdebatan filosofisnya, sokrates menemukan kesimpulan, pertama, ada benda-benda yang indah, sesuai dengan sifat dan ciri-cirinya masing-masing. Kedua, ada gagasan umum mengenai keindahan, yang menyebabkan benda yang dimaksudkan menjadi indah.
Tesis pertama menunjukkan bahwa keindahan bukanlah sifat khas objek tertentu, baik makhluk hidup maupun benda-benda mati, baik gadis cantik maupun bidadari. Tesis kedua menunjukkan bahwa keindahan adalah gagasan umum, yang dapat dipindah-pindahkan, memiliki bentuk dan nilai yang berubah-ubah, sehingga apabila ia ada pada objek tertentu, maka objek tersebut dapat dikatakan indah. Objek itulah yang pada gilirannya berutang pada keindahan sebab semata-mata atas dasar melekatnya keindahanlah maka objek menjadi indah.
Sotya Swastika Maharani(2102407120)ROMBEL 5
BalasHapusAnalisis gendhing lancaran Boga Sampir Sl 9
Bonang, bonang ini adalah instrumen yang mengawali permainan musik gamelan ini, bonang ini dibunyikan keras pada saat awal mulai.
kendhang, kendhang adalah instrumen yang bisa disebut sopir dalam gamelan, karena kendhang yang mengatur cepat lambatnya suatu musik gamelan, dalam lancaran ini, kendhangnya bagus dan bervariasi.
demung, demung disini adalah yang begitu runtut dalam membunyikannya, karena semua notasi dimainkan, demung dalam lancaran ini jelas sekali, tetapi jika sudah masuk lagu, sangat pelan, yang jelas terdengar adlah suara slenthem dan peking.
slenthem dalam lancaran ini, ketika belum memasuki lagu, suaranya tidak begitu terdengar, namun jiak sudah memasuki lagu. dapat terdengar dengan indah.
saron, saron sama seperti demung dalam membunyuikannya, antara saron dan demung sangat selaras sehingga terdengar indah.
gong, gong ini biasanya dibunyikan pada awal setelaqh kendang dan akhir ketika mau selesai, namun itu untuk gong gedhe, jika untuk kempul, itu dibunyikan pada hitungan ganjil, dengan suaranya yang khas, membuat lancaran ini, terdengar bagus.
peking, cara mambunyikaknya dipukul dua kali dan denga suaranya yang nyaring membuat lancaran terasa bernada tinggi.
kenong, kenong dibunyikan pada hitungan genap, dan terdengar ngebas, sehingga menimbulkan kesan yang gagah.
kethuk, membunyikannya hitungan sama denga bonang, dan unik untuk didengar.